• Dzikir Pagi Dan Petang

    Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.” (Al-Ahzab: 41—42)

  • Dzikir Mejelang Tidur

    Siapa yang membaca ayat Kursi saat hendak tidur, maka sesungguhnya dia selalu berada dalam perlindungan Allah dan tidak didekati setan hingga pagi hari.

  • Bacaan Setelah Bangun Tidur

    Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.” (Al-Ahzab: 41—42)

  • Dzikir Setelah Shalat Fardlu

    Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.” (Al-Ahzab: 41—42)

  • Bacaan Shalat Tahajud

    Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.” (Al-Ahzab: 41—42)

Rabu, 30 Desember 2015

Sejarah Perayaan Tahun Baru Masehi, Muslim Haram Merayakan

Bagi mayoritas manusia di seluruh dunia, tahun baru memang menjadi perayaan yang sangat populer. Cara merayakannya pun sangat beragam, mulai dari konvoi di jalanan, pesta kembang api, konser musik, hingga pesta minuman keras pun dapat terlaksana sesuka hati. Semuanya bersuka ria menyambut perayaan tahun baru seolah menjadi suatu hal yang sangat dinanti-nanti.

Namun tahukah Anda, akan sejarah perayaan tahun baru masehi?

Dalam sejarah, perayaan tahun baru masehi merupakan pesta dari orang-orang Romawi. Mereka mendedikasikan hari istimewa tersebut untuk seorang dewa sesembahan mereka, itulah Dewa Janus. Yang merupakan dewa gerbang, pintu dan permulaan. Karena itu bulan pertama dari permulaan tahun masehi bernama Januari, yang diambil dari kata Dewa Janus.

Bagi bangsa romawi, Dewa Janus dinobatkan sebagai Dewa yang memiliki dua wajah. Satu wajah menatap ke depan, dan yang satunya lagi menatap ke belakang. Sebagai filosofi dari masa depan dan masa lalu. Dewa Janus juga biasanya disembah apabila orang romawi akan memulai sebuah pekerjaan baru. Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa perayaan tahun baru sama sekali bukanlah dari ajaran Islam.

Rasulullah Saw. bersabda:

"Barangsiapa menyerupai (meniru-niru) tingkah-laku suatu kaum maka dia tergolong dari mereka." (HR. Abu Dawud)

Maukah kita dikatakan sebagai orang yang termasuk dari golongan mereka? Tentu saja tidak. Oleh karena itu, sudah selayaknya kita sebagai seorang muslim tidak ikut-ikutan untuk merayakan perayaan tahun baru.

Sebab dalam Islam kita diajarkan untuk mensyukuri waktu yang diberikan untuk menjadi manusia yang lebih taat. Bukan justru menghambur-hamburkan uang untuk kesenangan dunia semata. Karena hal itu merupakan perbuatan yang disukai oleh setan. Sebagaimana firman Allah Swt:

Yang Artinya: "Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya." (QS. Al-Isra: 27).

Na'udzubillahi mindzalik. Semoga kita semua terhindar dari segala perbuatan yang sia-sia. Wallahu a'lam bi ash-shawab.

Kiriman: Meida Prefik Nugraeni (Mahasiswa UPI, Aktivis KALAM UPI) Sumber: Voice of al-islam

Share:

Senin, 28 Desember 2015

Detik-detik Terakhir Menjelang Wafatnya Rasulullah S.a.w

Anas bin Malik meriwayatkan, pada Hari Senin, ketika kaum muslimin sedang melaksanakan shalat Subuh sementara sahabat Abu Bakar R.A. sedang mengimami mereka Nabi SAW tidak menemui mereka, tetapi hanya menyingkap tabir kamar Aisyah dan memperhatikan mereka yang berada di shaf-shaf shalat. Kemudian beliau tersenyum.

Share:

Minggu, 27 Desember 2015

Kisah Masa Kecil Rasulullah Bersama Ibunya

Sebagaimana tradisi suku Quraisy dan kabilah Arab pada umumnya, pada hari kedelapan selepas dilahirkan oleh Siti Aminah, Muhammad kecil harus diungsikan ke pedalaman dan baru akan dikembalikan ke ibunya ketika kelak berusia delapan atau sepuluh tahun. Tentu hal ini membuat Siti Aminah gundah. Tapi, tradisi tetaplah tradisi, mau nggak mau harus tetap dilaksanakan.

Share:

Sabtu, 26 Desember 2015

Cinta Rasul Ala Zaid Bin Haritsah

Beberapa tahun sebelum Rasulullah s.a.w diutus. Zaid bin Haritsah masih sangat belia ketika perkampungan Bani Kalb diserbu kelompok penyamun. Mereka tidak hanya merampas harta benda, tapi juga anak-anak untuk dijual di pasar budak. Termasuk Zaid bin Haritsah.

Share:

Jumat, 25 Desember 2015

Keseharian Rasulullah Dalam Berbusana Makan Minum Dan Tidurnya

Keseharian Rasulullah Dalam Berbusana Makan Minum Dan Tidurnya

Dalam hal berbusana: Rasulullah amat sederhana, jauh dari kesan mewah. Busana ini sekedar untuk melindungi badan dari cuaca ekstrem. Orang yang tidak memakai pakaian mewah, sedangkan ia mampu melakukannya, Allah memanggilnya di hadapan makhluk, berhak memilih pakaian apapun.

Share:

Kamis, 24 Desember 2015

Perihal Ibadah Rasulullah S.a.w

Rasulullah dalam Hadits Abi Hurairah diceritakan, Rasulullah shalat sampai kedua kakinya bengkak. Hal ini dilakukan sebagai wujud rasa syukur. Padahal kalau mau dikalkulasi secara fair, Rasulullah adalah manusia paling sempurna ibadahnya, dan satu-satunya yang terjamin dosanya diampuni. Rasulullah sebagai insan sempurna, meneladankan semangat totalitas dalam ibadah. Agar kita sebagai umat mendapat gambaran akan hal itu.

Share:

Keindahan Nama-nama Rasulullah S.a.w

Ibnu 'Asakir meriwayatkan dari Ka'bil Akhbar, Bahwa Nabi Adam berkata pada Syits puteranya, bahwa Nama Muhammad tertulis di mata bidadari. Akan tetapi, Al-Qusthullani dalam Mawahib al-ladunniyah menyebut bahwa Rasulullah Saw. memiliki 1000 nama, sebagaimana Allah juga memiliki 1000 nama. Bisa jadi yang dikehendaki Al-Qusthullani di sini adalah sifat Baginda Nabi. Dan setiap sifat Nabi otomatis menjadi nama bagi beliau. Maka tidak heran jika nama Nabi mencapai 1000 nama. Sebab segala sifat-sifat terpuji berhak disematkan pada Baginda Nabi.

Share:

Rabu, 23 Desember 2015

Keindahan Fisik Baginda Nabi S.a.w

Keindahan fisik Rasulullah tidak tampak seutuhnya kepada kita. Sebab jika ditampakkan seluruhnya, mata kita tak mampu untuk melihatnya.

Share:

Minggu, 20 Desember 2015

Toleransi, Tenggangrasa, Dan Ucapan Selamat Natal

Tidak ada seorangpun di dunia ini yang dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Manusia selalu memerlukan orang lain guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebab itulah manusia dijuluki sebagai makhluk sosial. Demikian padatnya kebutuhan manusia sehingga persinggungan diantara mereka tidak mungkin terelakkan. Bahkan di dunia yang semakin mengglobal ini, persinggungan itu telah menembus batas. Batas ruang, waktu, budaya, agama dan juga ideologi.

Share:

Sabtu, 28 November 2015

Tidak Menikah Bukan Berarti Tak Laku

Hidup di zaman ketika Islam semakin jauh dari kehidupan itu memang bukan hal yang mudah. Ada saja suara yang berusaha menilai seseorang dari tampilan luarnya saja. Kita tak akan pernah tahu apa yang telah dilewati oleh seseorang lainnya ketika ia memutuskan sesuatu dalam hidupnya. Begitu juga dalam hal jodoh. Masalah jodoh, menurut saya bukan masalah laku atau tidak laku Kita tidak sedang berjualan kue apem di sini yang bisa dinilai laku bila laris manis.

Share:

Rabu, 04 November 2015

Al-Quran Adalah Petunjuk Kehidupan

Alkisah ada seorang pelaut yang ingin melayari samudera lepas, dan dia sangat bersemangat untuk itu, dengan keyakinan yang hebat. dia memulai impiannya itu dengan membuat kapal dari kayu terbaik, dengan desain terbaik, dari pembuat kapal yang terbaik, semua serba terbaik.

kapalnya dirancang untuk menampung sampai ratusan kru kapal, juga dengan gudang perbekalan yang memadai selama setahun penuh. tidak hanya itu, berbulan-bulan dia habiskan merekrut kru paling hebat, mewawancarai, menyortir, melatih bahkan menyatukan para ahli kapal menjadi satu tim .

entah berapa malam dia habiskan untuk merencanakan perjalanannya menjangka dan menggaris peta, menulis poin demi poin rancangan.

saat yang direncanakan itupun telah tiba, layar yang dijahit dikembangkan, sauh diangkat, semua sudah siap berlayar, mengarungi samudera tanpa batas.

Akhirnya, inilah saatnya menjemput impian, mereka berlayar, hari demi hari, bulan demi bulan, semua telah terlewati.. sampai akhirnya sang pelaut ini sadar, dan tercengang, ada satu hal yang dia lupakan selama ini, yang terpenting! Yaitu PENUNJUK ARAH!.

Dia tengok kiri-kanan muka-belakang, semua sama-sama horison, lautan tak bertepi, tiada petunjuk ataupun penanda arah apapun. lunglai, semua persiapan selama ini, Percuma, bila sudah salah tujuan, maka apapun jadi sia-sia.

Sebenarnya pelaut itu sama seperti kita di dunia ini, tak tahu apapun, bedanya hidup kita tak bisa balik lagi, namun analoginya adalah sama. hidup tanpa arah itu sia-sia, menjalani hidup tanpa petunjuk itu Percuma, perbekalan apapun takkan pernah bisa mencukupi, takkan membantu apapun.

Berlayar tanpa navigasi itu cari mati, di dunia tanpa petunjuk itu sesat sudah pasti, maka yang paling penting di dalam hidup itu tahu arah. bila Arah sudah benar, perbekalan, kru, kapal, barulah bermanfaat, bila ada Penunjuk arah, itu baru perjalanan, karena dengan petunjuk arah itu sudah pasti terdapat tujuan.

Dunia ini lautan yang menyesatkan, dan Penunjuk arah kita adalah AL-QURAN, siapa jauh darinya, pasti akan tersesat, dan kehilangan arah. Sungguh sangat disayangkan akhir-akhir ini kita saksikan manusia, sibuk siapkan kapal, kru, perbekalan, tapi jauh dari AL-Quran, lupa membawa Penunjuk arah. maka wajar dunia memperdaya dirinya, tak puas, galau, sedih, kecewa, depresi di ujung hidupnya. menumpuk penuh kesia-siaan, dengan percuma.

Yang sudah salah jalan di dunia dan mati, maka ia tidak akan bisa peringatkan kita, yang betul jalannya dan sudah tenang, juga tak bisa pandu kita. bocoran dan Penunjuk arah di dunia satu-satunya hanya dari Allah dan Rasul-Nya, Kitabullah dan Sunnah, itu petunjuk yang pasti. Al-quran itu cahaya, siapa jadikan ia petunjuk arah, maka jalannya akan terang dan pasti arah di jalan Allah.

Share:

Minggu, 25 Oktober 2015

Toleransi Hasan Al-Bashri Bertetangga Nasrani

Kekaguman para sahabat dan murid-muridnya tak menggetarkan pribadi Hasan al-Bashri untuk tetap hidup penuh kesederhanaan. Di rumah susun yang tidak terlalu besar ia tinggal bersama istri tercinta. Di bagian atas adalah tempat tinggal seorang Nasrani. Kehidupan berumah tangga dan bertetangga mengalir tenang dan harmonis meski diliputi kekurangan menurut ukuran duniawi.

Share:

Jumat, 25 September 2015

Kisah: KH. Kholil, Orang Arab Dan Macan Tutul

Alkisah, seseorang berkebangsaan Arab berkunjung ke Pesantren Kedemangan, Bangkalan, Jawa Timur. Masyarakat Madura menyebutnya habib. Kala itu, Syaikhona KH. Muhammad Kholil sedang memimpin jamaah sembahyang maghrib bersama para santrinya.

Usai menunaikan shalat, Mbah Kholil pun menemui para tamunya, termasuk orang Arab ini. Dalam pembicaraan, tamu barunya ini menyampaikan sebuah teguran, "Tuan, bacaan al-Fatihah Antum (Anda) kurang fasih."
Rupanya, sebagai orang Arab, ia merasa berwenang mengoreksi bacaan shalat Mbah Kholil.

Setelah berbasa-basi sejenak, Mbah Kholil mempersilakan tamu Arab itu mengambil wudhu untuk melaksanakan sembahyang maghrib. "Silakan ambil wudhu di sana." ucapnya sambil menunjuk arah tempat wudhu di sebelah masjid.

Baru saja selesai wudhu, si orang Arab tiba-tiba dikejutkan dengan munculnya seekor macan tutul. Dengan bahasa Arab yang fasih ia berteriak dengan maksud mengusir si macan. Kefasihan bahasa Arabnya tak memberi pengaruh apa-apa. Binatang buas itu justru kian mendekat.

Mendengar keributan di area tempat wudhu, Mbah Kholil datang menghampiri. Mbah Kholil paham, macan tutul itu lah sumber kegaduhan. Kiai keramat ini pun melontarkan sepatah dua patah kata kepada macan. Meski tak sefasih tamu Arabnya, anehnya, sang macan langsung bergegas pergi.

Orang Arab itu akhirnya mafhum, kiai penghafal al-Qur'an yang menguasai qiraat sab'ah (tujuh cara membaca al-Qur'an) ini sedang memberi pelajaran berharga untuk dirinya. Nilai ungkapan seseorang bukan terletak sebatas pada kefasihan kata-kata, melainkan sejauh mana penghayatan atas maknanya.

Share:

Kamis, 09 Juli 2015

Sheikh Ahmad Khotib Al-minangkabawi, Imam masjidil haram Asal agam Minangkabau

Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi Rahimahullah adalah ulama besar Indonesia yang pernah menjadi imam, khatib dan guru besar di Masjidil Haram, sekaligus Mufti Mazhab Syafi'i pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Dia memiliki peranan penting di Mekkah al Mukarramah dan di sana menjadi guru para ulama Indonesia.

Share:

Selasa, 07 Juli 2015

Sheikh Abdullah Sirajuddin, Seorang Auliya' Produktif Dalam Berkarya

Syeikh Abdullah ibn Muhammad Najib Sirajuddin al-Hussaini 'alayhimâ rahmatullâhi ta'âlâ, merupakan keturunan Imam Hussain bin Ali Abi Thalib radhiyallâhu ta'âlâ 'anhuma wa ardhahumâ, dari pihak ayah. Syeikh Abdullah Sirajuddin lahir di dalam sebuah keluarga yang saleh dan terhormat, di masa ambang keruntuhan Ottoman Kesultanan pada tahun 1923 Masehi.

Share:

Sabtu, 04 Juli 2015

Peristiwa-peristiwa Bersejarah Di Bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan seperti yang kita ketahui merupakan bulan yang istimewa untuk umat Islam. Yang pertama dan terutama adalah karena di bulan inilah Al Quran pertama kali diturunkan, dan selanjutnya kitab ini menjadi pedoman hidup umat Islam sampai akhir zaman.

Share:

Kamis, 02 Juli 2015

Kh. Maimun Zubair: Tentang Cinta Yang Langgeng

Jika Willy Surendra, menulis dalam puisinya "Dalam kalbu yang murni, usia cinta lebih panjang dari usia percintaan" maka, Mbah Mun memberikan penjelasan dari sudut pandang yang lain tentang kelanggengan cinta.

Share:

Selasa, 30 Juni 2015

Carilah Ilmu Sampai Ke Pondok pesantren Al-mubarok Lanbulan

Pondok Pesantren Al-Mubarok Lanbulan: Yang letaknya berada di pedalaman Desa Batorasang, Kecamatan Tambelangan, Kabupaten Sampang, Madura, jawa Timur ini, didirikan oleh KH. Muhammad Fathullah pada 08 Syakban 1371 Hijriah. bertepatan dengan 2 Mei 1952. Putra kelima dari pasangan KH. Muhammad Fathullah bin Sa'idan dengan Nyai Sadrina binti KH. Abdul Allam ini, dikenal sosok ulama yang arif dan bijaksana.

Awalnya tidak banyak santri yang mengaji kepada KH Muhammad Fathullah di PP Al-Mubarok Lanbulan. Sebagian besar santri merupakan warga sekitar yang mengaji kepada suami dari Nyai Ewi Fatimah atau yang dikenal dengan Nyai Hj Zainab ini. Sistem pengajarannya waktu itu masih dengan sistem sorogan atau tontonan.

Seiring waktu, santri terus berdatangan. Bersamaan dengan itu, pembangunan asrama pesantren juga dilakukan. Pada masa KH Muhammad Fathullah pendidikan PP Al-Mubarok Lanbulan murni salaf. Yakni hanya mengajarkan kitab kuning dan pengetahuan agama. Hingga beliau wafat, belum ada pendidikan formal, jadi hanya ada pendidikan diniyah.

Pondok Pesantren Al-Mubarok Lanbulan: selanjutnya diasuh putra KH Muhammad Fathullah, yakni KH Ach. Barizi MF. Beliau juga dibantu sembilan saudaranya dalam mengembangkan pesantren. Termasuk tiga saudara iparnya. Pesantren ini dikembangkan secara kompak oleh KH Ach. Barizi MF bersama saudara-saudarinya. Tidak ada dua pengasuh ataupun dua pesantren. Keluarga pengasuh hingga saat ini terus solid untuk mengembangkan pendidikan pesantren dan pengabdian kepada masyarakat.

Pada masa KH Ach. Barizi MF inilah perkembangan pendidikan meningkat drastis. Santri terus berdatangan ingin mondok di pesantren ini. Pembangunan asrama santri berbanding lurus dengan meningkatnya santri yang mondok. Pada masa inilah banyak penyempurnaan sistem dan manajemen pesantren serta tata cara kehidupan santri. Juga didirikan lembaga pendidikan formal seperti SMP, MA, dan yang lainnya. Hingga saat ini pesantren masih diasuh langsung KH Ach. Barizi MF.

Saat ini jumlah santri dan murid PP Al- Mubarok Lanbulan secara keseluruhan mencapai 2.200 orang, baik putra ataupun putri. Santri menempati asrama yang dibagi menjadi daerah A hingga J. Masing-masing daerah terdiri dari 12 hingga 20 kamar. Fasilitas santri di PP Al-Mubarok Lanbulan cukup bagus karena kebanyakan asrama yang dibangun bertingkat.

Saat ini juga PP Al-Mubarok Lanbulan sudah memiliki koperasi pesantren (kopontren) sebanyak 3 unit. Namanya Kopontren Alqomar. Selain koperasi, ada juga unit kesejahteraan keluarga (UKK) yang dikelola keluarga pesantren.
Share:

Sabtu, 27 Juni 2015

Wali Pendiam Yang Hidup Sederhana Dari Tanah Aceh

Abu Ibrahim Woyla adalah seorang ulama pengembara. Ulama ini dalam masyarakat Aceh lebih dikenal dengan Abu Ibrahim Keramat atau dipanggilnya dengan sebutan "Teungku Beurahim Wayla". Tokoh ini merupakan orang yang sangat dihormati di Aceh dan dipercaya sering menunaikan shalat Jum'at di Makkah dan kembali pada hari itu juga. Abu Ibrahim Woyla yang bernama lengkap Teungku Ibrahim bin Teungku Sulaiman bin Teungku Husen dilahirkan di kampung Pasi Aceh, Kecamatan Woyla, Kabupaten Aceh Barat pada tahun 1919 M.

Share:

Senin, 22 Juni 2015

Pentingnya Menjaga Niat

Melakukan kebaikan, hendaknya didasarkan pada niat yang baik pula. Seperti halnya dengan puasa yang kita laksanakan seperti sekarang ini, kita niatkan untuk mencari ridho Allah. Tidak hanya itu, apabila kita sudah memiliki niat yang baik, mesti terus kita pertahankan, agar tidak terjadi hal seperti pada kisah seorang Bani Israil yang alim dan rajin beribadah

Share:

Jumat, 19 Juni 2015

KH. Shonhaji Kebumen Guru Spiritual Gusdur

Beliau adalah salah satu diantara guru mursyid KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Jika disebut "5 Kyai Khas" yang selalu dipatuhi komandonya oleh Gus Dur, maka beliaulah salah satu diantaranya.

Share:

Kamis, 18 Juni 2015

Kisah Habib Luthfi Bin Yahya Ditantang 10 Dukun

Pernah suatu ketika, sekitar 10 dukun mendatangi Habib Luthfi Yahya untuk ditantang keilmuannya. Habib Luthfi dengan tegas menolak tantangan tersebut. Beliau balik bertanya: "Untuk apa dan atas dasar apa kamu menantang saya?" Salah satu dari 10 dukun itu menjawab: "Kami ingin tahu apa kelebihanmu, kok murid-muridmu banyak bahkan ada di mana-mana. Dan apa benar Habib ini wali Allah, kok sampai-sampai banyak yang menyukai dan mencintaimu."

Share:

Rabu, 17 Juni 2015

Kisah Islamnya Abu dzar Al-Ghifari

Dari Abdullah bin Ash-Shamit, ia mengatakan bahwa Abu Dzar menuturkan, "Kami keluar dari kaum kami (Ghifar), dan mereka menghalalkan bulan suci. Aku keluar bersama adikku, Unais, dan ibu kami. Kami singgah di rumah paman kami (dari pihak ibu). Paman memuliakan kami dan berbuat baik kepada kami, sehingga kaumnya iri hati terhadap kami. Kata mereka, "Jika kamu pergi meninggalkan keluargamu, maka Unais memimpin mereka." Kemudian pamanku datang lalu menyampaikan kepada kami apa yang dikatakan kepadanya. Mendengar hal itu kami mengatakan, "Kebaikan yang anda perbuat selama ini telah anda cemari. Kami tidak bisa meneruskan hubungan lagi denganmu."

Share:

Sabtu, 13 Juni 2015

Ketika Si Penyembah Api Mendapat Hidayah Dan Berkah

Pada masa Malik bin Dinar, hiduplah seorang pemuda. Dahulu pemuda tersebut, seorang penyembah api. Namun setelah ia mendapat hidayah untuk masuk Islam, ia pun mengajak seluruh anak dan istrinya untuk ikut masuk Islam.

Suatu hari, usai mengikuti sebuah majelis yang dipimpin Malik bin Dinar di Kota Bashrah, ia pulang ke rumahnya yang berupa puing tua. Meski kehidupannya sangat miskin, ia bertekad tak akan menjual agama Islam yang telah dipeluknya demi harta. "Pergilah ke pasar, carilah pekerjaan. Belilah makanan secukupnya untuk kita makan," kata istrinya, sewaktu pagi. "Baiklah" kata pemuda itu.

Kemudian, ia bergegas pergi ke pasar, berharap mendapat sebuah pekerjaan yang halal. Namun, hari itu tidak ada seorang pun yang memberinya pekerjaan. "Lebih baik aku bekerja untuk Allah saja," kata pemuda tersebut, dalam hati. Ia pun pergi ke sebuah masjid. ia terus shalat hingga malam tiba. Lalu pulang dengan tangan hampa. "Kamu tak membawa sesuatu?" Tanya istrinya. "Hari ini, aku bekerja untuk Raja. Dia belum memberinya hari ini. Semoga saja besok diberi," jawabnya.

Mereka melewatkan malam dengan rasa lapar. Hari berikutnya, ia belum juga mendapatkan pekerjaan, dan kembali pulang dengan tangan hampa. Hingga pada hari Jum'at, ia kembali ke pasar. Namun, sayangnya ia belum jua mendapat pekerjaan. Ia pun pergi ke masjid. Setelah shalat dua rakaat, ia mencurahkan isi hatinya kepada Allah.

"Tuhanku! Pemukaku! Junjunganku! Engkau telah memuliakanku dengan Islam. Kau berikan aku keagungan Islam dam petunjuk terbaik. Atas nama kemuliaan agama yang telah kau berikan padaku dan dengan kemuliaan hari Jum'at yang agung, aku mohon tenangkan hatiku, karena sulitnya mencari nafkah untuk keluargaku. Berikanlah aku rizki yang tak terhingga. Demi Allah! aku malu kepada keluargaku. Aku takut berubah pikiran mereka tentang Islam," pintanya.

Di saat yang sama, ketika pemuda itu shalat Jum'at. Saat anak istrinya tengah kelaparan. Pintu rumahnya diketuk seseorang. Rupanya, datang seorang lelaki yang membawa nampan emas yang ditutup dengan sapu tangan bersulam emas. "Ambil nampan ini. katakan kepada suamimu. Ini upah kerjanya selama dua hari. Akan kutambah bila ia rajin bekerja. Apalagi pada hari Jum'at seperti ini. amal yang sedikit, pada hari ini di sisi Raja Yang Maha Perkasa artinya sangat besar sekali," ucap sang lelaki tersebut.

Nampan tadi, tak disangka berisi 1000 dinar. Ia pungut 1 dinar untuk ditukarkan di tempat penukaran uang. Pemilik penukaran uang yang seorang Nasrani mengatakan uang tersebut bukan dinar biasa. Sebab, beratnya dua kali lipat dari dinar biasa. "Dari mana kau dapatkan ini?" tanya Nasrani tersebut.

Setelah diceritakan kisah yang telah ia alami tadi, 1 dinar tadi ditukar dengan 100 dirham. Sementara itu, sepulang dari masjid, sang suami kembali dengan tangan hampa. Namun, di tengah jalan ia membawa beberapa jumput pasir dan dimasukkannya ke dalam sapu tangan. "Bila nanti ditanya, kujawab saja isinya tepung," gumamnya dalam hati.

Ketika masuk rumah, tercium bau makanan. Sambil keheranan, ia bertanya kepada istrinya, gerangan apa yang terjadi, bungkusan pasir ia taruh di samping pintu.Setelah diceritakan semuanya, sontak ia langsung sujud syukur kepada Allah. "Apa yang kau bawa tadi?" tanya istrinya. Rupanya istrinya tahu, sang suami tadi membawa sesuatu. "Ah, jangan kau tanyakan itu," jawabnya.

Karena penasaran, bungkusan pasir diambil oleh istri. Namun apa yang terjadi, ternyata pasir tadi telah berubah menjadi tepung. Kembali ia dan istrinya, bersujud kepada Allah. Atas keajaiban dan rizki yang telah diberikan.

(Oleh: Ajie Najmuddin) Disarikan dari Kitab Al-Mawa'idhu al-'Usfuriyyah

Share:

Jumat, 05 Juni 2015

KH. Moh. Said Ketapang, Mahir Dalam Berbahasa Asing

KH. Moh. Said adalah salah satu ulama pendiri NU. Pernah diberi tugas oleh Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy'ari untuk mengibarkan bendera NU ke penjuru dunia karena beliau termasuk orang yang mahir berbahasa Inggris, Russia, Jerman dan Belanda. Bersama Syaikh Ghanaim dan KH. A. Wahab Hasbullah, beliau berkelana ke luar negeri mengabarkan NU ke dunia internasional.

Share:

Selasa, 26 Mei 2015

KH. Asrori Al-ishaqi, Mursyid Toriqoh Qodiriyah wa Naqsabandiyah

KH. Ahmad Asrori Al-ishaqi merupakan putera dari Kyai Utsman Al-Ishaqi. Beliau mengasuh Pondok Pesantren Al-Fithrah Kedinding lor Surabaya. Kelurahan Kedinding Lor terletak di Kecamatan Kenjeran Kota Surabaya. Di atas tanah kurang lebih 3 hektar berdiri Pondok Pesantren Al-Fithrah yang diasuh Kyai Ahmad Asrori, putra Kyai Utsman Al-Ishaqy.

Share:

Rabu, 20 Mei 2015

Salah satu Akhlaq Kh. Najih Maimoen Yang patut Di Teladani

Satu hari, salah satu murid Abuya as-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki, Gus Najih (KH. Najih Maimoen) pernah diundang mengisi pengajian di sebuah acara hajatan yang digelar seorang Wak Kaji kaya raya di Sarang.

Share:

Minggu, 10 Mei 2015

Wanita Ujian Terbesar Kaum laki-laki

Sudah ditentukan sejak awal bahwa setiap laki-laki akan memiliki pasangannya masing-masing, dan karena itu juga maka seorang laki-laki memang ditakdirkan untuk mencintai perempuan. Tapi ternyata justru perempuan jugalah yang kemudian menjadi ujian paling berat yang diterima laki-laki langsung dari Allah SWT. Sebagai seorang laki-laki, banyak yang menjadi godaan bagi kita baik itu harta maupun tahta.

Share:

Selasa, 28 April 2015

Pemuda Idaman Akhir zaman

Masa muda katanya adalah masa yang penuh warna, masa-masa yang setiap orang tua pasti ingin memutar lagi memorinya. Tapi, masa itu sangatlah labil, Pikiran pun belum bisa terfokus pada satu titik, hanya mengikuti alur hasrat dan keinginan yang ada di dalam hati sehingga masa itu akan membuat orang yang mengalaminya seperti terombang-ambing di atas derumnya ombak laut.

Share:

Senin, 13 April 2015

Membangun Rumah Tangga Sakinah

Rumah tangga ibarat dua sisi mata uang, suatu saat ia datang dan menjelma menjadi taman surga yang membuat semua penghuninya merasa betah didalamnya, namun bisa saja ia datang sebagai tambang derita yang seolah-olah mau membunuh kita secara perlahan. Lalu bagaimana keluarga yang kita bina bisa datang dengan wajah taman surga? Inilah yang menjadi idaman setiap insan. Namun apakah mereka semuanya berhasil atau malah banyak yang menemukan jalan buntu, baik yang berkecukupan secara materi maupun yang tersorang-sorang? Apa sebenarnya rahasianya? Mengapa kebanyakan dari kita sulit mewujudkannya? Bahkan tidak jarang yang mewarnai rumah tangga adalah percekcokan dan pertengkaran yang berujung pada terancamnya keutuhan rumah tangga dengan bahasa lain yakni al-firaq (perceraian).

Allah SWT menyebutkan perjanjian untuk membangun rumah tangga sebagai perjanjian yang sangat kuat dan kokoh yaitu “mitsaqan ghalidlo”. Allah swt menyebutkan kalimat tersebut hanya dalam dua hal yaitu dalam membangun rumah tangga yang terdapat dalam surat An nisa’: 21, dan dalam membangun misi kenabian. Rosulullah SAW sendiri bersabda: “perbuatan halal yang dimurkai oleh Allah adalah perceraian.” Ada makna yang cukup tersirat dan rahasia dalam dawuh tersebut. Tidak ada satu perbuatan halal yang Allah murkai kecuali perceraian. Mengapa ini terjadi dalam perceraian? Inilah yang menjadi PR kita. Tentu masing-masing dari kita tidak ingin dimurkai sehingga rahmat Allah menjauh dari rumah kita.

Alhasil bangunan rumah tangga ibarat bangunan misi kenabian. Sehingga keluarga sakinah yang menjadi impian setiap manusia tidak mudah diwujudkan sebagaimana tidak mudahnya mewujudkan misi kenabian oleh setiap manusia. Pelu persyaratan-persyratan yang ketat dan berat. Mengapa? Karena dua persoalan ini bertujuan mewujudkan kesucian. Kesucian berpikir, mengolah hati, bertindak, dan generasi penerus umat manusia.

Makna Sakinah: Sebelum kita merintis keluarga sakinah, alangkah baiknya kita mengetahui dulu apa arti istilah tersebut. Istilah sakinah digunakan Al-qur’an untuk menggambarkan kenyamanan keluarga. Istilah ini mempunyai akar kata yang sama dengan “sakanun” yang berarti tempat tinggal. Bisa disimpulkan bahwa istilah tersebut digunakan Al-qur’an untuk menyebut tempat berlabuhnya setiap anggota keluarga dalam suasana yang nyaman dan tenang, sehingga menjadi lahan subur untuk tumbuhnya cinta kasih (mawaddah warahmah) di antara sesama anggotanya. Untuk mencapai itu semua, dalam bangunan rumah tangga Allah SWT telah menetapkan hak dan kewajiban. Kita bisa meminjam istilah Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART). Bangunan rumah tangga harus punya AD/ART, visi dan misi yang harus sesuai rambu-rambu yang telah ditetapkan oleh Allah dan RasulNya. Sebetulnya kita jangan hanya mengangalkan AD/ART yang bersifat teks atau buku, kita juga bisa meniru sosok figur yang telah berhasil mewujudkan sebuah keluarga besar yang berhasil mencetak generasi-generasi penerang alam. Dan ini tidak akan terbantahkan lagi oleh semua kaum muslimin. Figur tersebut adalah baginda Rasulullah yang berhasil membina dan membentuk keluarga sakinan dengan Sayyidah Khadijah

Wanita Lebih Berperan: Disini ada hal yang menarik untuk dikaji, khususnya bagi kaum hawa. Apa itu? Fakta berbicara bahwa Rasulullah banyak dibicarakan oleh kaum adam bahwa beliau melakukan pologami, kemudian mereka melaksanakannya dengan dalil mencontoh Rasulullah. Tapi kita harus ingat kapan Rosulullah berpoligami dan mengapa beliau melakukan hal ini? Sejarah mencatat bahwa beliau tidak berpoligami saat beliau masih berdampingan dengan Sayyidah Khadijah sampai beliau meninggal. Hal ini karena sosok Khadijah yang luar biasa, seorang istri yang benar-benar memahami jiwa dan profesi suaminya. Beliau korbankan seluruh harta bendanya untuk dakwah Rosulullah, Sehingga Rasulullah tidak pernah melupakan Khadijah walaupun sudah meninggal dan disampingnya telah ada pendamping wanita yang lain bahkan lebih dari satu. Sosok Khadijah al-Kubra ini bisa diambil uswahnya bagi wanita khususnya kaum ibu supaya sang suami tidak mudah menoleh ke lain hati.

Maka bisa disimpulkan bahwa yang paling berperan besar dalam membentuk keluarga sakinah adalah wanita. Mari kita perhatikan firman Allah SWT dalam surat Ar-Ruum: 21 yang artinya: “diantara tanda-tanda kekuasaannya adalah Dia menciptakan istri dari spesies kalian agar kalian merasa sakinah dengannya, dia juga menjadikan diantara kalian rasa cinta dan kasih saying. Sesungguhnya dalam hal ini terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berpikir.” Dalam ayat tersebut ada kalimat “supaya kalian memperoleh atau merasakan sakinah” yang merupakan arti dari kalimat “Litaskunu”. Jadi sakinah itu dalam diri perempuan. Tapi harus diingat laki-laki harus menjaga sumber sakinah tersebut, tidak lantas mencemati dan menodainya agar sumber itu tetap terjaga, jernih dan suci, serta mengalir ke semua anggota keluarga.

Memahami Hak dan Kewajiban Sesama: Sebagai pengantar untuk membangun keluarga sakinah perlu kiranya kita harus mengetahui untuk selanjutnya mengaplikasikan hak dan kewajiban pasangan suami istri yang telah ditetapkan Allah dan Rasulnya. Hak-hak suami antara lain: suami adalah pemimpin keluarga. Dalam Al-qur’an disebutkan bahwa “kaum lelaki adalah pemimpin bagi kaum wanita oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita)”, suami berhak dipatuhi dan tidak boleh ditentang, istri tidak boleh mensedekahkan harta atau berpuasa sunnah kecuali mendapat izin dari sang suami, suami harus dilayani dalam semua kebutuhan jasmani dan biologis kecuali kalau ada udzur, dan lain sebagainya.

Adapun hak-hak istri antara lain: istri harus mendapat perlakuan yang baik sesuai dengan firman Allah yang artinya:”ciptakan hubungan yang baik dengan istrimu.” (An Nisa’: 19), istri berhak mendapatkan nafkah dari suami baik sandang, pangan maupun papan, dan lain sebagainya. Selain sebuah keluarga harus mengetahui hak dan kewajiban, keluarga yang sakinah adalah bisa meredam emosi dan pertikaian. Rosulullah bersabda: “laki-laki yang terbaik dari umatku adalah orang yang tidak menindas keluarganya, menyayanginya dan tidak berlaku dzalim pada mereka.” Ada suatu kisah, pada suatu hari seorang sahabat menghadap Rasulullah dan berkata: “ya Rasulullah, aku mempunyai seorang istri yang selalu menyambutku ketika aku datang dan menghantarkanku saat aku keluar rumah. Jika ia melihatku termenung, ia sering menyapaku dengan mengatakan: ada apa denganmu? Apa yang kau risaukan? Jika rizkimu yang kau risaukan, ketahuilah bahwa rizkimu ada ditangan Allah. Tapi jika yang kau risaukan adalah urusan akhirat maka semoga Allah menambah rasa risaumu.” Setelah mendengar cerita sahabat tersebut, Rasulullah bersabda: “sampaikan kabar gembira pada istrimu tentang surga yang sedang menunggunya! Dan katakan padanya bahwa ia temasuk salah satu pekerja Allah. Allah mencatat setiap hari baginya pahala tujuh puluh syuhada’.” (makarimul Akhlaq: 200).

Share:

Minggu, 12 April 2015

Syekh M. Arsyad Al-banjari, Sang matahari agama Dari Kalimantan

Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah bin Abdur Rahman al-Banjari, demikian nama seorang ulama ternama asal Kalimantan yang kiprahnya terkenal di nusantara. Berangkat dari tanah kelahirannya di Martapura, syekh belajar ke tanah kelahiran Islam, Makkah dan Madinah, kemudian pulang menjadi ulama yang mendidik banyak putra bangsa serta mencetak du'at penerus dakwah.

Beliau lahir pada 15 Safar 1122 Hijriyah atau bertepatan dengan 17 Maret 1710 Masehi. Menurut beberapa sumber, ia memiliki garis keturunan hingga cucu Rasulullah dari Ali bin Abi Thalib dan Fathimah az-Zahra. Nenek moyang syekh yang datang ke Tanah Melayu merupakan Abdullah bin Abu Bakar as-Sakran, kakek dari Abdur Rahman al-Banjari. Abdullah pertama kali datang di Filipina dan mendirikan Kerajaan Mindano.

Saat perang melawan Portugis, datuk Muhammad Arsyad ini melarikan diri ke Martapura atau Lok Gabang. Di Ibu Kota Kerajaan Banjar inilah, ia menurunkan keturunan hingga lahirlah Syekh Muhammad Arsyad. Lahir di tengah keluarga beragama, Syekh Arsyad mendapat pendidikan Islam yang baik. Hingga menginjak usia remaja, ia pun berangkat ke Haramain untuk menempa ilmu.

Tak tanggung-tanggung, syekh menghabiskan waktu 30 tahun di Makkah dan lima tahun di Madinah untuk menyempurnakan ilmu agmanya. Tak heran jika kefakihannya tak tertandingi di nusantara saat ia pulang kembali ke kampung halaman. Waktu lama yang Syekh Arsyad habiskan di Tanah Suci membuatnya menjadi murid sekaligus sahabat para masyayikh ternama Saudi. Beberapa di antaranya, yakni Syekh 'Athoillah bin Ahmad al-Mishry, Syekh Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi dan Syekh Muhammad bin Abdul Karim al-Samman al-Hasani al-Madani.

Disebutkan pada masa itu, terdapat empat ulama dari Tanah Air yang menuntut ilmu di Haramain. Selain Syekh Arsyad, terdapat pula Syekh ‘Abdus Shamad al-Falimbani dari Palembang, Syekh Abdur Rahman al-Mashri al-Batawi dari Betawi, dan Syekh Abdul Wahhab Bugis dari Bugis. Dengan mereka, Syekh Arsyad berteman baik dan menuntut ilmu di Tanah Suci. Keempatnya pun kemudian dijuluki "Empat Serangkai dari Tanah Jawi (Melayu)".

Sepulang dari Tanah Suci, Syekh al-Banjari kemudian pulang ke tanah kelahirannya di Martapura. Dari sana, ia kemudian membangun pendidikan Islam di Kalimantan. Ia memegang peranan penting dalam penyebaran dakwah Islam di sana. Setelah membuka majelis ilmu, al-Banjari pun kemudian mendidik banyak murid. Dari pengajaran dia, lahir para dai yang kemudian ikut serta dalam mendakwahkan Islam di Kalimantan.

Bahkan dikisahkan, saat pulang ke Martapura, al-Banjari disambut dengan upacara adat kebesaran yang dihelat Raja Banjar, Sultan Tamjidillah. Rakyat Banjar mengelukan kedatangan sang syekh yang dianggap sebagai Matahari Agama. Maksudnya, al-Banjari diharapkan dapat menjadi cahaya agung yang menyinari Kerajaan Banjar.

Tak hanya masyarakat, tapi seluruh pihak kerajaan pun mengharapkannya menjadi pembimbing agama mereka. Harapan tersebut pun tercapai. Al-Banjari pulang dan menyalakan cahaya agama yang menghidupkan masyarakat Banjar. Namun, tak hanya di Kalimantan, dakwahnya pun disambut baik oleh masyarakat di Pulau Jawa. Di Jakarta, yang saat itu masih bernama Batavia, pendidikan al-Banjari diterima dengan antusias. Ia bahkkan pernah mengoreksi arah kiblat beberapa masjid tua di Jakarta, seperti Masjid Pekojan dan Masjid Luar Batang di Jakarta Utara.

Syekh berdakwah di nusantara hingga 50 tahun lamanya. Ia juga memiliki banyak karya yang menjadi media pembelajaran Islam kala itu. Kitabnya yang paling fenomental, yakni Sabil al-Muhtadin. Semua ulama di tanah Melayu menjadikan kitab tersebut sebagai rujukan ilmu. Hampir tak ada satu pun ulama nusantara yang tak mengenal karya beliau tersebut. "Dia sangat termasyhur dengan kitab Sabilal Muhtadin. Judul kitab yang kini diabadikan menjadi nama masjid terbesar di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Selain Sabil al-Muhtadin, al-Banjari pun menghasilkan karya yang jumlahnya sangat banyak. Meski aktivitas mengajar telah menghabiskan banyak waktunya, syekh menyempatkan menulis kitab untuk menunjang dakwahnya. Dengan ilmu agama yang mumpuni, al-Banjari tak hanya menulis kitab dalam satu bidang agama. Ia menulis tentang akidah, fikih, tafsir, hadis, dan hampir seluruh cabang ilmu agama.

Setelah menorehkan banyak kiprah bagi Muslimin Tanah Air, bahkan hingga Asia Tenggara, al-Banjari kemudian mengembuskan napas terakhir pada 6 Syawal 1227 Hijriyah atau 3 Oktober 1812 Masehi. Ia dimakamkan di Desa Kelampaian Tengah, Kecamatan Astambul, yakni berjarak sekitar 15 kilometer dari Martapura. Hingga kini, makamnya sering dikunjungi warga, bahkan menjadi objek wisata religi. Di dekat makam, dibangun pula sebuah perpustakaan yang menyimpan karya ulama karismatik yang pernah dimiliki Indonesia ini.

Share:

Jumat, 10 April 2015

Sosok Ulama Kharismatik, Abuya Dimyati, Keramat Dari Barat

Ulama dan guru tarekat yang ‘alim dan wara’ di Banten. Nama lengkapnya adalah KH. Muhammad Dimyati bin Muhammad Amin al-Banteni yang biasa dipanggil dengan Abuya Dimyati, atau oleh kalangan santri Jawa akrab dipanggil “Mbah Dim”.Lahir sekitar tahun 1925 dari pasangan H. Amin dan Hj. Ruqayah. Sejak kecil Abuya Dimyati sudah menampakan kecerdasan dan keshalihannya. Ia belajar dari satu pesantren ke pesantren lainnya, menjelajah tanah Jawa hingga ke pulau Lombok demi memenuhi pundi-pundi keilmuannya.

Kepopuleran Mbah Dim setara dengan Abuya Busthomi (Cisantri) dan kiai Munfasir (Cihomas). Mbah Dim adalah tokoh yang senantiasa menjadi pusat perhatian, yang justru ketika dia lebih ingin “menyedikitkan” bergaul dengan makhluk demi mengisi sebagian besar waktunya dengan ngaji dan ber-tawajjuh ke hadratillah. Sebagai misal, siapakah yang tidak kecil nyalinya, ketika begitu para santri keluar dari shalat jama’ah shubuh, ternyata di luar telah menanti dan berdesak-desakan para tamu (sepanjang 100 meter lebih) yang ingin bertemu Mbah Dim. Hal ini terjadi hampir setiap hari. Para peziarah Walisanga yang tour keliling Jawa, semisal para peziarah dari Malang, Jember, ataupun Madura, merasa seakan belum lengkap jika belum mengunjungi ulama Cidahu ini, untuk sekadar melihat wajah Mbah Dim; untuk sekadar ber-mushafahah (bersalaman), atau meminta air dan berkah doa.

Mbah Dim menekankan pada pentingnya ngaji dan belajar, yang itu sering disampaikan dan diingatkan Mbah Dim kepada para santri dan kiai adalah jangan sampai ngaji ditinggalkan karena kesibukan lain ataupun karena umur. Sebab, ngaji tidak dibatasi umur. Sampai-sampai, kata Mbah Dim, "Thariqah aing mah ngaji", yang artinya ngaji dan belajar adalah thariqahku.

Bahkan kepada putera-puterinya (termasuk juga kepada santri-santrinya) Mbah Dim menekankan arti penting jama’ah dan ngaji sehingga seakan-akan mencapai derajat wajib. Artinya, tidak boleh ditawar bagi santri, apalagi putera-puterinya. Mbah Dim tidak akan memulai shalat dan ngaji, kecuali putera-puterinya yang seluruhnya adalah seorang hafidz (hafal Al-Qur’an) itu sudah berada rapi, berjajar di barisan (shaf) shalat. Jika belum dating, maka kentongan sebagai isyarat waktu shalat pun dipukul lagi bertalu-talu. Sampai semua hadir, dan shalat jama’ah pun dimulai.

Mbah Dim merintis pesantren di desa Cidahu Pandeglang sekitar tahun 1965, dan telah banyak melahirkan ulama-ulama ternama seperti Habib Hasan bin Ja’far Assegaf yang sekarang memimpin Majelis Nurul Musthofa di Jakarta. Dalam bidang tasawuf, Mbah Dim menganut tarekat Qodiriyyah-Naqsabandiyyah dari Syeikh Abdul Halim Kalahan.

Tetapi praktik suluk dan tarekat, kepada jama’ah-jama’ah Mbah Dim hanya mengajarkan Thariqah Syadziliyah dari syekh Dalhar. Itu sebabnya, dalam perilaku sehari-hari ia tampak tawadhu’, zuhud dan ikhlas. Banyak dari beberapa pihak maupun wartawan yang coba untuk mempublikasikan kegiatannya di pesantren selalu di tolak dengan halus oleh Mbah Dim, begitu pun ketika ia diberi sumbangan oleh para pejabat selalu ditolak dan dikembalikan sumbangan tersebut. Hal ini pernah menimpa Mbak Tutut (Anak Mantan presiden Soeharto) yang member sumbangan sebesar 1 milyar, tetapi oleh Mbah Dim dikembalikan.

Tanggal 3 Oktober 2003 tepat hari Jum’at dini hari Mbah Dim dipanggil oleh Allah SWT ke haribaan-Nya. Banten telah kehilangan sosok ulama kharismatik dan tawadhu’ yang menjadi tumpuan berbagai kalangan masyarakat untuk dimintai nasihat. Bukan hanya masyarakat Banten, tapi juga umat Islam pada umumnya merasa kehilangan. Ia di makamkan tidak jauh dari rumahnya di Cidahu Pandeglang, dan hingga kini makamnya selalu ramai dikunjungi oleh para peziarah dari berbagai daerah di Tanah Air.

Share:

Senin, 06 April 2015

Download Ebook: Sejarah Imam Syafi'i


Judul: Sejarah Imam Asy-syafi'i
Bahasa: Indonesia
Penterjemah: Abu Umamah Arif Hidayatullah
Editor: Eko Haryanto Abu Ziyad
Terbitan: Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat rabwah
Sumber Risalah: islamhouse.com

Ringkasan: Nama imam asy-syafi'i sudah begitu familiar ditelinga kita. Beliau adalah imam kita. Tetapi apakah kedekatan nama beliau dihati kita sudah sama pada pengenalan kita pada sosok pribadi beliau ? Barangkali belum ? Nah, dalam risalah ini dijelaskan tentang sosok pribadi beliau secara sempurna ... DOWNLOAD DISINI

Share:

Kamis, 02 April 2015

Pemblokiran 19 situs media islam menuai kritik tajam

Image by: arrahmah.com

Pemblokiran 19 situs media Islam oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi menuai kritik keras dari para pengguna media sosial melalui tagar #KembalikanMediaIslam. Kendati begitu, banyak pula yang menganggap keputusan itu tepat.

Situs-situs tersebut diblokir sejumlah penyedia layanan internet (ISP) atas permintaan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) sebagai upaya pencegahan paham radikal di Indonesia.

Lalu, pada Senin (30/03) sore, tagar #KembalikanMediaIslam muncul di sejumlah jejaring sosial. Awalnya, tagar ini dimulai oleh Suci Susanti, seorang aktivis di Lapas Anak Tangerang, yang senang membaca dakwatuna.com, salah satu situs yang diblokir. "#kembalikanmediaIslam #bringbackdakwatuna," begitu kicaunya melalui akun @Bunda_Suci28.

Kepada BBC Indonesia, dia mengaku bingung mengapa situs itu diblokir karena menurutnya kontennya netral. "Yang saya lihat, situs itu isinya banyak pelajaran, kisah-kisah agama, fikih dan aqidah. Rata-rata sering menjadi rujukan teman-teman untuk isi ceramah." Dia mengatakan tidak semua situs yang ada dalam daftar blokir merupakan situs provokatif. "Pemberitaan soal ISIS di Dakwatuna justru isinya sama dengan media-media umum."

Bayu Prioko, yang memakai akun @bayprio, juga menjadi salah satu pengguna awal tagar #KembalikanMediaIslam. Dia mengatakan keputusan pemerintah "kurang tepat" karena "sebagian besar situs itu kontra ISIS dan sebagian lagi netral."

Data kepolisian mengatakan 159 orang telah berangkat ke Irak dan Suriah untuk bergabung dengan ISIS. "Pemerintah punya hak untuk memblokir, tetapi harusnya dicek dulu isinya, dipanggil, dilakukan pemeriksaan. (Karena) justru website itu (seperti Dakwatuna atau Hidayatullah) membantu pemerintah melawan radikalisme)," kata praktisi telekomunikasi dan pemerhati media yang aktif di jaringan TVSehat. "Pemerintah harus berhati-hati untuk hal yang bersifat SARA.

Kalau situs-situs itu tidak terbukti radikal, pemerintah harus rehabilitasi nama medianya," kata Bayu kepada BBC Indonesia. Tagar #KembalikanMediaIslam kemudian banyak juga digunakan oleh pengguna Twitter dan hingga kini telah digunakan 78.000 kali dan menjadi topik populer Twitter di Indonesia bahkan dunia.

Sejumlah situs yang diblokir antara lain arrahmah.com, voa-islam.com, dakwatuna.com, muslimdaily.net, dan hidayatullah.com. Situs kiblat.net, gemaislam.com, eramuslim.com, dan daulahislam.com turut pula diblokir. Sementara itu, Menteri Agama, Lukman Saifuddin, dalam akun Twitter-nya mengatakan Kementerian Agama "tak terlibat sama sekali dalam proses pemblokiran situs-situs tersebut." Lukman mengatakan akan menghubungi BNPT untuk mendapat penjelasan resmi "agar masyarakat mengetahui definisi dan batasan "radikal" itu seperti apa." Begitulah pemerintahan Jokowi sikapnya terhadap Islam dan umat Islam.

Sumber: (voa-islam.com)

Share:

Jumat, 27 Maret 2015

Kaum saba' dan banjir arim

Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasan Allah) di tempat kediaman mereka, yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan kiri. Kepada mereka dikatakan, ‘Makanlah olehmu dari rezeki yang dianugerahkan Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. Negerimu adalah negeri yang baik, dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.’ Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar, dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr.” (QS Saba' 15-16).

Nah, siapakah kaum Saba’ itu? Kisah mereka yang diceritakan Al-Quran, terkait erat dengan kisah Ratu Balqis, yang memerintah Saba’ tahun 1000 Sebelum Masehi, dan puncak kekuasaannya pada zaman Nabi Daud ‘Alaihissalam dan Nabi Sulaiman ‘Alaihissalam. Seperti halnya kaum Tsamud, kaum Saba’ dianugerahi Allah tanah yang subur, serta kecerdasan dan pengetahuan yang mumpuni dalam bidang pengairan, pertanian, dan perniagaan.

Walau hidup ribuan tahun yang lalu Sebelum Masehi, mereka mampu membangun bendungan atau dam raksasa di Sungai Adhanah, yang terletak tepat di jantung ibu kotanya, yaitu Ma’rib, Yaman. Bendungan itu terkenal dengan sebutan Bendungan Ma’rib. Konon, bendungan tersebut tingginya 16 meter, lebarnya 60 meter, dan panjangnya 620 meter. Berdasarkan perhitungan yang dilansir oleh ilmuwan muslim Harun Yahya, total wilayah yang dapat diairi bendungan ini 9.600 hektare, dengan 5.300 hektare termasuk dataran bagian selatan dan sisanya termasuk dataran sebelah barat. Dua dataran ini disebut "Ma'rib dan dua dataran" dalam prasasti Saba'.

Ungkapan dalam Al-Quran surah Saba’ ayat 15 di atas, "dua buah kebun di sisi kiri dan kanan", menunjukkan kebun-kebun dan kebun anggur yang mengesankan di kedua lembah ini. Berkat bendungan ini dan sistem pengairannya, daerah ini menjadi terkenal sebagai kawasan berpengairan terbaik dan paling menghasilkan di Yaman. Di samping hasil pertanian, angkatan bersenjata kaum Saba' pun luar biasa kuat. Seperti ungkapan para komandan tentara Saba' kepada Ratu Balqis, yang diceritakan dalam Al-Quran, “Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan keberanian yang luar biasa dalam peperangan, dan keputusan berada di tangan Baginda Ratu; maka pertimbangkanlah apa yang akan Baginda Ratu perintahkan.” (QS An- Naml: 33).

Dengan kebudayaan dan militernya yang maju, negari Saba' jelas merupakan salah satu negeri "adidaya" kala itu. Sayangnya, keimanan mereka terhadap akidah tauhid tidak bertahan lama. Banjir Arim Seperti yang sering diceritakan, keinginan Ratu Balqis untuk beriman dengan akidah tauhid bermula selepas ia menerima sepucuk surat dari Nabi Sulaiman. Ratu Balqis dan rakyatnya kemudian beriman kepada Allah. Setelah Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis mangkat, sekitar tahun 926 Sebelum Masehi, keimanan kaum Saba’ kepada Allah tidak bertahan lama. Raja kerajaan itu kembali mensyirikkan Allah dengan kembali menyembah Dewa Almaqah, Dewi Bulan, dan Dhat Bad’an, Dewa Matahari. Raja merekapun menganggap dirinya sebagai wakil Almaqah, yang wajib disembah oleh seluruh rakyat. Kemudian mereka membangun kuil, dan peninggalan kuil itu masih ada di beberapa wilayah di Yaman hingga hari ini.

Ahli arkeologi menganggarkan lebih 3.000 kuil menempatkan patung Dewa Almaqah di Yaman. Tidak mengherankan jika kaum Saba’ akhirnya menerima nasib sama seperti kaum Tsamud, yang dibinasakan Allah lantaran kekufuran mereka kepada Allah. Bendungan yang setiap abadnya diperbaiki itu pun jebol tahun 542 M. Runtuhnya bendungan tersebut mengakibatkan banjir besar Arim yang disebutkan dalam Al-Quran serta mengakibatkan kerusakan hebat. Kebun-kebun anggur serta ladang-ladang pertanian yang telah mereka tanami selama ratusan tahun hancur tak tersisa. Kaum Saba' segera mengalami masa resesi.

Setelah bencana banjir Arim, daerah tersebut mulai berubah menjadi padang pasir, dan kaum Saba' kehilangan sumber pendapatan mereka yang terpenting karena lahan pertanian mereka hilang. Kaum tersebut, yang tidak mengindahkan seruan Allah untuk beriman dan bersyukur kepada-Nya, akhirnya diazab dengan sebuah bencana yang tidak mereka sangka-sangka. Menurut perhitungan mereka, bendungan itu tidak mungkin jebol. Namun, Allah Mahakuasa. Setelah kehancuran besar yang disebabkan oleh banjir, kaum tersebut mulai terpecah belah. Mereka meninggalkan rumah mereka dan berpindah ke Arab Selatan, Mekah, dan Syria. (may/voa-islam.com)

Share:

Sabtu, 21 Maret 2015

Mitos masyarakat antara kufur dan tidak

Di tengah derasnya perkembangan zaman yang semakin pesat, mitos dan khurafat masih tetap mengakar kuat dalam tubuh masyarakat, utamany mereka yang hidup di pedesaan. Masih ada beberapa mitos dan khurafat yang masih dipercaya. Takhayul dan mitos merupakan kepercayaan yang berada di luar batas akal manusia atau bisa dikatakan kepercayaan yang hanya ada dalam khayalan dan rekaan belaka, tidak bisa dibuktikan secara ilmiah.

Versi takhayul misalnya, adalah anggapan atau keyakinan kalau melakukan ini hari ini maka akan akan begini, kalau melakukan itu hari itu maka akan tertimpa begitu. Dahulu kala, masyarakat sangat kental dengan hal-hal yang berbau takhayul semacam ini. Banyak mitos (takhayul) yang dipercaya. Misalnya mitos hari baik. Untuk melakukan sesuatu yang sangat penting, sebagian masyarakat masih mencari jam, hari, tanggal dan bulan yang baik. Mitos hari baik ini tertuang dalam buku perimbon, sebuah buku yang berisikan sistem bilangan pelik untuk menghitung hari mujur untuk mengadakan selamatan, mendirikan rumah, memulai perjalanan dan mengurus segala macam kegiatan penting, baik bagi perorangan maupun masyarakat.

Selain mitos hari baik, masih banyak lagi-lagi mitos yang berkembang. Di antaranya adalah mitos kehamilan; wanita hamil memiliki beberapa pantangan, kalau pantangan itu dilakukan akan mempengaruhi terhadap keselamataan cabang bayi yang dikandungnya. Mitos menyapu pada malam hari yang katanya akan menyebabkan fakir miskin. Dan masih banyak lagi mitos-mitos unik yang tetap mengakar kuat di masyrakat sampai sekarang. Entah siapa dan dari mana mitos ini? Tidak bisa diketahui secara pasti. Namun, yang pasti mitos telah ada sejak dulu dan menjadi keyakinan koliktif masyarakat secara turun-temurun.

Sepintas, takhayul yang berkembang di masyarakat bisa berdampak negative terhadap akidah Islam. Ketika mitos telah menjelma sebagai akidah yang diyakini, maka dapat menjeremuskan seseorang pada kesyirikan; menggantungkan kesuksesan dan kegagalan sesuatu kepada selain Allah. Dalam al-Qur`an dan Hadis menggantungkan adanya seuatu kepada selain Allah disebut dengan istilah Tathayyur. Istilah ini muncul dari kebiasaan masyarakat Arab Jahilyah. Ketika mereka hendak bepergian, mereka menangkap burung, lalu dilepas terbang (tathayyur). Kalau terbang ke arah kiri menurut mitos mereka akan ada hal buruk yang akan menimpa hingga mereka urung bepergian.

Islam datang dengan membawa konsep tauhid, suatu keyakinan bahwa hanya ada satu Tuhan dan hanya Dia lah satu-satunya Dzat Yang Menciptakan dan Mengatur segala sesuatu yang terjadi. Bukan yang lain. Setelah Nabi Muhammad resmi diangkat menjadi rasul, dengan tegas beliau menolak praktik tathayyur yang terjadi di masyarakat Arab Jahiliyah tempo dulu. Nabi bersabda: “Bukan golongan kita orang yamg masih menggantungkan sesuatu kepada selain Allah (Tathayyur) (HR Bazzar).

Al-Qur`an juga menolak tegas. Dalam al-Qur`an dikisahkan kebiasaan masyarakat Mesir kuno yang sering menjadikan Nabi Musa sebagai ’kambing hitam’ atas kesialan yang menimpa mereka. ”Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata: “Itu adalah karena (usaha) kami”. Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui” (QS Al-A’raf [04]:131).

Orang-orang Arab Jahiliyah tak jauh berdeda; “Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami”.”(QS Yasin [36]:19).

Intinya, hanya Allah yang dapat mewujudkan segala sesuatu. Ma lam yasya’ lam yakun. Itu adalah keyakinan paten yang tidak dapaat ditawar. Oang Islam dituntut untuk memilki keyakinan itu. Tetapi keyakinan ini sebenarnya tidak menghalangi seseorang untuk berusaha mencari sebab untuk mencapai segala tujuannya dengan tetap meyakini bahwa itu hanya sebagai sebab dan Allah lah yang menjadi musabbibul Asbabnya.

Kiai Nawawi Abd Jalil, pengasuh Pondok Pesantren Sidogiri dalam rubrik Sowan di Buletin SIDOGIRI edisi 25, pernah ditanya mengenai mitos hari baik dan nahas yang terjadi di masyarakat . Beliau menjawab, bahwa sesuai keterangan yang ada dalam kitab Talkhîsul Murâd, jika ada yag bertanya apakah hari ini baik untuk melangsungkan akad nikah atau pindah rumah maka jawaban itu tak perlu dijawab. Sebab Syari’at mencegah keyakinan seperti itu dengan larangan yang cukup tegas.

Namun Ibnul Fakrah menyatakan komentar Imam Syafi’i, jika ada seorang peramal mengakatan seperti itu namun ia tetap beri’tikad bahwa sesungguhnya segala sesuatu terjadi atas kehendak dan kekuasaan Allah, hanya saja Allah memberlakukan adat, bahwasanya seperti itu akan terjadi jika melakukan seperti ini, maka kepercayaan ini sama sekali tidak bermasalah atau tidak haram.

Dengan begitu, intinya semua tergantung pada keyakinan. Mitos hari baik misalnya, bisa saja menyebabkan syirik bila ada keyakinan bahwa hari baik itu yang mempengaruhi secara total. Jika tidak seperti itu maka tidak ada masalah. Bahkan dianjurkan, apabila mencari hari baik karena menaruh harapan; usaha yang ia lakukan pada hari itu sebaik harinya, dengan tetap meyakini bahwa semua yang terjadi berjalan atas kehendak Allah. Nabi sendiri sering bertafâul. Pada saat khutbah salat istisqa’ Nabi membolak-balikkan selendang yang beliau pakai sebagai bentuk pengharapan, supaya dengan membolak-balikkan sorban musibah yang menimpa kaum muslimini saat itu juga berbalik menjadi baik.

Dalam pandangan ulama fikih, tafa’ul menjadi suatu kausa hukum kesunnatan. Anak yang baru lahir dianjurkan diberi nama yang baik dan indah sebagai bentuk tafa’ul, supaya kelak ia tumbuh menjadi orang baik. Hewan aqiqahnya pun sunnat dimasak dengan bumbu yang manis-manis dengan harapan (tafa’ul) ketika dewasa ia berperangai semanis namanya.

Begitu pula kesunatan menyirami kuburan dengan air dingin, karena ada tafa’ul agar mayyit merasakan dingin dalam peristirahatan terakhirnya. (HR Thabrani) Dilihat secara peraktiknya, Tafâ’ul juga bisa dibilang mitos. Peraktik tafa’ul dan tathayyur tak jauh berbeda. Keduanya tak bisa dijangkau akal. Perbedaan antara keduanya hanya terletak keyakinan pelakunya. Memberi nama baik kepada anak karena meyakini bahwa, nama baik itu yang menjadikan sebagai orang baik jelas syirik. Tetapi apabila hal itu hanya sekadar menaruh harapan baik agar dengan nama baik itu seorang menjadi orang baik dengan seizin Allah maka hal itu dianjurakan. Begitu pula dengan mencari hari baik dan semacamnya. Semua tergantung pada niat pelakunya; sebagai bentuk tafâ’ul atau tathayyur. Wallahu a’lam

Oleh: Achmad Zahrie Ms. Sumber: www.sidogiri.net

Share:

Rabu, 18 Maret 2015

Bersabarlah...!

bersabarlah dalam penantian, sebagaimana sabarnya Nabi Ibrahim, tatkala meminta pada Allah keturunan, lalu Allah anugerahkan padanya Nabi Ismail.

bersabarlah dalam usaha, sebagaimana sabarnya Bunda Hajar, dan Nabi Ismail tatkala ditinggal suaminya tanpa bekal, lalu Allah karuniakan pada mereka air zamzam.

bersabarlah dalam ujian, sebagaimana sabarnya Nabi Ismail dan Nabi Ibrahim, tatkala Allah meminta nyawanya, lalu Allah selamatkan mereka, dan Allah berkahi keturunan mereka.

bersabarlah dalam dakwah, sebagaimana sabarnya Nabi Muhammad, tatkala harus difitnah, diancam, diusir, dicaci, dilempari, disakiti, lalu Allah muliakan namanya di langit dan di bumi.

bersabarlah dalam kelapangan, sebagaimana sabarnya Nabi Sulaiman, yang Allah uji dengan kekayaan yang tak pernah diberi pada siapapun jua, dan dia tak pernah merasa memiliki selain berucap "Ini hanya karunia dari Tuhanku!"

bersabarlah dalam kesakitan, sebagaimana sabarnya Nabi Ayyub yang Allah uji dengan badan dan jiwa, harta dan keluarga, lalu Allah tinggikan derajatnya di surga.

bersabarlah dengan cara apapun, karena malaikat di surga nanti akan mengucapkan "salam keselamatan pada kalian, tersebab kesabaran kalian"

(yaitu) syurga 'Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu, (sambil mengucapkan): "Salamun 'alaikum bima shabartum". Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu (QS 13: 23-24) (Ustadz Felix siauw)

Share:

Senin, 16 Maret 2015

8 Bekal hidup di dunia dan akhirat

Suatu hari Imam Syaqiq al-Balkhi bertanya kepada Imam Hatim al-Asham, “Kamu sudah bersama saya selama tiga puluh tahun, apa yang kamu dapatkan selama ini?” Imam Hatim menjawab, “Saya mendapatkan delapan faedah ilmu yang mencukupi saya. Saya berharap kesuksesan saya ada di dalamnya.” Imam Syaqiq bertanya lagi, “Apa saja hal itu?”. Imam Hatim berkata,

“Pertama, saya melihat orang-orang satu sama lain saling mencintai dan menyayangi.Bahkan, disebabkan cintanya yang begitu besar, ada yang rela menemaninya saat sakit. Ada juga yang menemani sampai di pinggir kuburannya. Namun setelah itu, semua orang pergi dan meninggalkan orang yang dicintai sendiri. Lantas saya berpikir dan berkata dalam hati, “Saya tidak pernah menemukan orang yang rela menemani orang yang dicintai sampai ke dalam kuburan meskipun ia sangat mencintainya, selain amal kebaikan. Oleh karena itu, saya selalu mencintai amal baik agar kelak menjadi penerang dalam kuburan saya serta menemani dan tidak meninggalkan saya seorang diri.”

Kedua, tidak sedikit saya temui orang-orang yang mengikuti dan patuh pada hawa nafsunya. Lalu saya merenungkan firman Allah swt, “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya, sungguh, surgalah tempat tinggal(nya).” (QS. an-Nazi’at [79]: 40-41). Saya yakin apa yang diwartakan al-Qur’an pasti benar, oleh karena itu saya selalu melawan hawa nafsu saya dengan cara giat mujahadah.

Ketiga, saya melihat banyak orang yang berlomba-lomba mengumpulkan harta kekayaan dan enggan mendermakannya. Lalu saya teringat firman Allah swt, “Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.” (QS. an-Nahl [16]:96). Oleh karena itu, saya dedikasikan semua harta saya di jalan Allah. Saya bagi-bagikan pada orang miskin yang membutuhkan agar kelak menjadi tabungan saya di sisi Allah swt.

Keempat, saya menyaksikan sebagian orang ada yang berasumsi bahwa kemuliaan hanya bisa didapat dengan memiliki banyak pengikut dan memiliki harta yang melimpah. Bahkan, sebagian ada yang beranggapan bahwa kemuliaan bisa diraih dengan cara mengghasab harta orang lain (korupsi), berprilaku zalim, dan menumpahkan darah. Pun ada yang mengatakan kebahagiaan dan kepuasan hanya bisa didapat dengan cara menghambur-hamburkan uang dan hidup berfoya-foya. Lantas saya merenungi firman Allah swt, “Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. al-Hujurat [49]:13). Maka, saya memilih takwa karena saya yakin al-Qur’an pasti benar.

Kelima, saya sering menjumpai orang saling mencacimaki dan saling mengekspos kejelekan orang lain. Faktor utamanya, menurut saya, adalah disebabkan rasa dengki akan kekayaan, pangkat, dan ilmu orang lain. Kemudian saya menghayati firman Allah swt, “Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia.” (QS. az-Sukhruf [43]:32). Maka, saya tahu bahwa Allh swt telah membagi dan mengaturnya dengan sedemikian rupa sejak zaman azali, sehingga saya tidak pernah dengki dan selalu menerima apa saja yang dianugerahkan Allah swt.

Keenam, tidak sedikit saya temui orang yang saling bermusuhan dikarenakan ada tujuan dan sebab tertentu. Lantas saya teringat firman Allah swt, “Sungguh, setan itu musuh bagimu, maka perlakukanlah sebagai musuh.” (QS. Fathir [35]:6). Saya pun mafhum bahwa hanya setan musuh utama umat manusia.

Ketujuh, saya perhatikan banyak orang yang berusaha dengan sungguh-sungguh mencari penghidupan dunia, sehingga ada di antaranya yang tidak peduli apakah barang itu syubhat atau haram. Bahkan, ada yang rela melukakannya dengan cara mengemis. Lalu saya teringat firman Allah swt, “Dan tidak ada satupun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semua rezekinya dijamin oleh Allah swt.” (QS. Hud [11]:6). Dari itu saya tahu bahwa rezeki saya telah diatur dan dijamin oleh Allah swt, sehingga saya fungsikan sebagian besar waktu saya untuk fokus beribadah kepada-Nya.

Kedelapan, saya melihat kebanyakan setiap orang menggantungkan hidupnya pada orang lain. Ada juga yang bergantung pada harta benda dan kekuasaan. Lalu saya meresapi firman Allah swt, “Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah telah menjadikan ketentuan bagi setiap sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq [64]:3).

Maka, saya bertawakal kepada Allah swt. Hanya Dia-lah Zat yang akan mencukupi semua kebutuhan saya.” Imam Syaqiq lantas berkata, “Semoga Allah selalu bersemamu. Sungguh, telah saya lihat dan teliti dalam kitab Taurat, Injil, Zabur dan al-Qur’an, saya menemukan di dalamnya juga mengandung delapan faedah tersebut.

Oleh karena itu, barang siapa yang mengamalkan delapan faedah di atas berarti dia termasuk orang yang mengerti isi empat kitab tersebut.”

Oleh: M. Nadi el_Madani, salah satu santri Pondok Pesantren sidogiri, asal Kabupaten Bangkalan.

Sumber: www.sidogiri.net

Share:

Selasa, 10 Maret 2015

Teknologi itu memudahkan atau memanjakan?

Manusia sesuai kodratnya sebagai makhluk sosial benar-benar membutuhkan interaksi kepada sesamanya, sehingga hidupnya benar-benar bergantung pada seberapa mampu mereka membina hubungan verbal dengan orang lain mulai dari kerabat sendiri, tetangga dekat hingga masyarakat luas. Hal-hal remeh sekalipun seperti tegur sapa bisa memberi pengaruh/efek nyata dalam suatu komunikasi. Bahkan hubungan kekerabatan pun bisa retak gara-gara keengganan salah satu pihak untuk menyapa.

Jika zaman dulu kita harus mengirim surat melalui pos yang butuh waktu lama kalau mau memberi kabar pada sanak keluarga jauh ataupun teman kita, maka saat ini cukup dengan memencet tombol pada HP (handphone) lalu terkirimlah dalam waktu sekejap saja. Hal itu masih dalam taraf wajar jika jarak yang jauh benar-benar menjadi sekat yang memisahkan mereka.

Namun penilaian itu bisa berubah menjadi ironis jika jarak yang dekat hanya dicukupkan dengan saling kirim sms ataupun telepon saja padahal tidak dibarengi dengan wujudnya suatu halangan. Seseorang enggan keluar rumah dan bertegur sapa secara langsung hanya gara-gara bisa dilakukannya video call dan berbagai fitur-fitur lainnya, padahal waktunya begitu longgar dan tak memiliki kesibukan lain. Bahkan perbincangan yang semestinya bisa dilakukan langsung dirasa cukup lewat perbincangan sosmed di dunia maya saja.

Bukti nyata hal ini adalah ketika hari raya datang, seolah mulai menjadi tradisi bahwa kebanyakan orang mengucapkan selamat hari raya ataupun sugeng riyaden, permohonan maaf dan sebagainya melalui kirim sms atau chat/MBM yang lagi maraknya saat ini, dengan kata-kata mutiara, pantun atau susunan huruf ataupun simbol membentuk suatu kalimat, ditambah lagi sekarang sedang marak stiker-stiker bergambar tanpa melakukan silaturrahim dengan bertatap muka (face to face) langsung. Kegunaan alat-alat bantu pada mulanya sungguh membantu kita memang, tapi lama kelamaan kebanyakan masyarakat justru terlena dengan berbagai fitur-fitur yang terus berkembang tanpa diiringi kesiapan moral menghadapinya. Sebenarnya tinggal bagaimana kita semua siap menghadapinya, sudah siapkah moral anda?

Dicopast dari situs: Pondok pesantren Al-anwar Sarang.
Share:

Selasa, 03 Maret 2015

Empat golongan (laki-laki) Akan ditarik ke neraka oleh wanita

Di akhirat nanti ada empat golongan laki-laki yang akan ditarik masuk ke neraka oleh wanita. Lelaki itu adalah mereka yang tidak memberikan hak kepada wanita dan tidak menjaga amanah itu.

1.AYAH: Jika seseorang yang bergelar ayah tidak mempedulikan anak perempuannya di dunia. Dia tidak memberikan segala keperluan agama seperti mengajarkan shalat, mengaji, dan sebagainya. Dia membiarkan anak perempuannya tidak menutup aurat. Tidak cukup kalau dangan hanya memberi kemewahan dunia saja. Maka dia akan ditarik ke neraka oleh anaknya. Duhai lelaki yang bergelar Ayah, bagaimanakah keadaan anak perempuanmu sekarang? Apakah kau mengajar shalat dan shaum (puasa) padanya? Menutup aurat? Pengetahuan agama? Jika tidak terpenuhi, maka bersedialah untuk menjadi bagian dari Neraka.

2.SUAMI: Apabila suami tidak mempedulikan tindak tanduk isterinya. Bergaul bebas. Membiarkan istri berhias diri untuk lelaki yang bukan mahramnya. Jika suami mendiam istri yang seperti itu walaupun suami adalah orang yang alim, suami adalah shalatnya yang tidak pernah bolong, suami adalah yang shaumnya tidak pernah lalai. Maka dia akan turut ditarik oleh isterinya bersama-sama ke dalam Neraka. Duhai lelaki yang bergelar Suami, bagaimanakah keadaan istri tercinta sekarang? Dimanakah dia? Bagaimana akhlaknya? Jika tidak kau jaga mengikuti ketetapan Islam, maka terimalah keniscayaan yang kau akan sehidup semati bersamanya hingga Neraka.

3.SAUDARA LAKI-LAKI: Apabila ayahnya sudah tiada, tanggungjawab menjaga kehormatan wanita jatuh pada saudara lelakinya (kakak, paman). Jika mereka hanya mementingkan keluarganya saja dan adik atau keponakannya dibiarkan dari ajaran Islam, maka tunggulah tarikan mereka di akhirat kelak. Duhai lelaki yang mempunyai saudara perempuan, jangan hanya menjaga amalmu dan melupakan amanah yang lain. Karena kau juga akan pertanggungjawabkan diakhirat kelak.

4.ANAK LAKI-LAKI: Apabila seorang anak laki-laki tidak menasehati Ibunya perihal kelakuan yang tidak dibenarkan dalam Islam. Bila ibu membuat kemungkaran, mengumpat, memfitnah, mengunjing, maka anak itu akan ditanya dan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak. Dan bersama menemani ibunya di Neraka. Wallahu A'lam..

Share:

Sabtu, 28 Februari 2015

8 Kiat praktis bahagiakan suami

Menjalin keluarga yang harmonis adalah impian setiap pasangan suami istri. Hal ini bisa dicapai jika masing-masing merasa bahagia dan tentram bersama pasangannya. Kali ini kita akan membahas hal-hal sederhana yang bisa membuat suami merasa bahagia.

1. BERIKAN SAMBUTAN YANG MANIS: Sekembalinya suami dari bekerja, dinas luar kota, bepergian, atau kemana pun dia pergi, sambutlah dia dengan baik. Temui dia dengan wajah riang gembira. Bersolek dan pakailah wewangian. Kabarilah dia dengan kabar-kabar baik yang menggembirakan. Tahan diri Anda untuk menyampaikan berita-berita buruk, setidaknya sampai dia telah beristirahat dengan cukup. Berusaha keraslah untuk menyajikan makanan-makanan bermutu, dan sajikanlah selalu tepat waktu.

2. Merasa puas dengan apa yang telah Allah berikan melalui suami: Anda jangan pernah merasa depresi hanya karena suami Anda miskin atau memiliki pekerjaan dan karir yang biasa-biasa saja. Selama Anda dan suami dekat Allah Sang Pemberi rezeki, maka Dia pun akan menggelontorkan rezeki dan karunianya. Anda mesti melihat orang-orang sekeliling yang miskin, sakit, cacat, dan lainnya. Lantas bandingkan dengan semua yang telah Allah karuniai kepada Anda dan keluarga. Menjalin keluarga yang harmonis adalah impian setiap pasangan suami istri. Hal ini bisa dicapai jika masing-masing merasa bahagia dan tentram bersama pasangannya. Kali ini kita akan membahas hal-hal sederhana yang bisa membuat suami merasa bahagia. Ingatlah selalu bahwa kekayaan sejati terletak pada tingginya keimanan dan keshalihan. Dua hal itu merupakan investasi terbaik untuk menjalani kehidupan yang kekal kelak.

3. Bersyukur dan memberikan apresiasi: Berdasarkan sabda Rasulullah SAW, mayoritas penghuni neraka adalah wanita, dikarenakan mereka tidak bersyukur. Hasil dari rasa bersyukur adalah suami Anda akan lebih mencintai Anda, dan dia akan berupaya keras untuk membahagiakan Anda dengan beragam cara. Sementara dampak dari tidak bersyukur adalah suami Anda akan kecewa, lantas mulai bertanya, “Mengapa saya harus berbuat baik kepada istri saya, sementara dia tidak pernah bersyukur dan hormat?!”

4. Menjaga diri ketika suami tidak ada: Jagalah diri Anda dari segala hubungan yang diharamkan. Jaga setiap rahasia-rahasia keluarga, terutama yang berkenaan dengan hubungan suami-istri. Menjaga rumah dan merawat anak-anak. Menjaga uang dan segala harta bendanya. Jangan sekali-kali keluar rumah tanpa izin suami, dan tanpa mengenakan hijab (jilbab) yang rapih. Tolak kehadiran orang-orang yang tidak disenangi suami, jangan biarkan mereka masuk ke dalam rumah ketika suami tidak ada. Jangan biarkan laki-laki non-mahran berduaan dengan Anda di mana pun.

5. Tunjukkan rasa hormat kepada keluarga dan teman-temannya: Anda harus menyambut dan bersikap baik kerabat dan teman-teman suami Anda, terutama kedua orangtuanya. Sebisa mungkin Anda harus menghindari masalah dengan para kerabatnya. Anda harus menghindari memojokkan suami Anda ke posisi di mana dia harus memilih antara ibu dan istrinya secara dilematis. Tunjukkan keramahtamahan Anda kepada tamu-tamunya, dengan cara menyiapkan tempat yang menyenangkan kepada mereka untuk duduk, menyajikan makanan yang paling baik, menyambut istri-istri mereka, dan lain sebagainya. Dorong suami Anda agar secara rutin bersilaturahim ke kerabat keluarganya, dan agar mereka mengunjungi rumah Anda. Telponlah orangtua suami Anda, kakak-kakak dan adik-adiknya; kirimi mereka surat, beri mereka hadiah, bantu mereka ketika terkena musibah, dan lainnya.

6. Merawat rumah dengan baik: Upayakan agar rumah selalu bersih dan tertata dengan baik. Ubahlah tata letak barang-barang di rumah Anda dari waktu ke waktu untuk menghindari kebosanan. Pelajari semua skill pemeliharaan rumah. Pelajari bagaimana merawat anak-anak secara baik berdasarkan ajaran Islam.

7. Percantiklah dirimu dan rendahkan suaramu: Usahakan agar Anda selalu tampil cantik dan merendahkan suara di hadapannya. Lakukanlah hal itu hanya untuk suami Anda, dan jangan menampakkan kecantikan Anda di hadapan laki-laki yang bukan mahram (laki-laki yang layak untuk engkau nikahi jika engkau belum menikah).

8. Senantiasa tampil mewangi: dan selalu cantik Rawatlah dengan baik tubuh dan kebugaran jasmani Anda. Kenakanlah pakaian-pakaian yang menarik dan pakailah parfum yang aromanya disukai suami Anda. Mandilah secara teratur. Apabila telah bersih dari haid, bersihkanlah setiap berkas darah atau bau tak sedap. Gunakanlah jenis parfum, warna-warna, dan pakaian yang disenangi suami Anda. Ubahlah gaya rambut, parfum, dan lainnya dari waktu ke waktu untuk menghindari kejenuhan. Bagaimanapun, semua hal di atas harus dilakukan dengan tidak berlebih-lebihan, dan tentu saja, jangan melakukannya di hadapan laki-laki dan wanita yang bukan mahram.

Dicopast dari situs: Voice of Al-islam

Share:

Karamah khalifah Umar bin abdul aziz serigala menjadi jinak

Siapa yang tidak kenal dengan sosok khalifah ke-5, Umar bin Abdul Aziz yang terkenal dengan sikap adil dan zuhud. Keramat seputar keadilannya ini terekam dalam sebuah kisah sebagaimana diceritakan dalam kitab "Hikayat Islamiyyah Qablan Naumi lil atfhal" karya Najwa Husain Abdul Aziz.

Suatu ketika ada serigala pada masa kepemimpinan Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang bercampur dengan ratusan kambing yang digembalakan oleh seseorang.

Dikisahkan bahwa ada seorang saleh melewati tempat gembalaan kambing dan melihat keanehan perihal serigala yang bisa bersatu dengan kambing-kambing. Karena merasa aneh dan heran, akhirnya orang saleh tersebut mendekati penggembala kambing dan bertanya perihal yang dilihatnya.

“Wahai penggembala, kenapa kok bisa bercampur antara serigala dan kambing-kambing yang Tuan gembalakan, dan serigala tersebut tidak memangsa kambing-kambing?” tanya orang saleh keheranan.

Kemudian penggembala menjawab, “Wahai saudarakau apa yang tuan lihat itu adalah karamah dan bukti keadilan khalifah Umar bin Abdul Aziz dalam memimpin”.

Beberapa hari kemudian orang saleh itu melewati kembali lokasi gembalaan kambing, dan menyaksikan serigala yang sedang memangsa salah satu kambing. Si kambing menjerit histeris dan akhirnya mati. Ternyata kejadian tersebut bersamaan dengan wafatnya khalifah Umar bin Abdul Aziz.

Share:

Kamis, 26 Februari 2015

Kisah: Kh. Hasyim asy'ari dibohongi santri

Diceritakan dari Kyai Sanusi Lebaksiu Tegal (1938-2001), bahwa Kyai Tahmid Jagalampeni Brebes adalah teman sepondoknya tatkala mesantren di Hadhratus Syaikh KH. M.Hasyim Asy’ari Tebuireng. Waktu itu Gus Dur masih kecil, bahkan beliau sering melihatnya telanjang sebagaimana umumnya usia kanak-kanak. Suatu ketika Mbah Hasyim memanggil santrinya yang bernama Tahmid itu. Beliau meminta bantuan untuk suatu hal kepadanya. Namun tiba-tiba Mbah Hasyim bertanya: “Sudah shalat Mid?”

Sudah menjadi sifatnya santri sangat menurut apa kata dan perintah gurunya, begitu pun dengan Tahmid. Ia sangat takut jika sampai menunda-nunda perintah sang guru. Meski belum shalat, demi melaksanakan tugas sang guru ia pun menjawab: “Sudah Kyai.” Tapi dalam hatinya tetap berkata “belum shalat”, biarlah melaksanakan perintah guru dulu dan shalatnya setelahnya.

Tapi apa dikata, Mbah Hasyim yang memiliki mata batin tajam menimpalinya: “Sana shalat dulu Mid.”

Mendengar jawaban Mbah Hasyim, Tahmid gemetaran ketakutan. Keringat dinginnya mengucur. Tanpa pikir panjang ia pun langsung undur diri lalu melaksanakan shalat. Hanya karena pernah berbohong satu kali saja yang seperti itu, rasa takut Tahmid selalu ada hingga dirinya menjadi kyai sekalipun. Begitu mengingat kisah tersebut tubuhnya pasti gemetar ketakutan.

Begitulah para ulama kita, sangat merasa berdosa dengan kesalahan yang kecil. Sedangkan kita kadang tak perduli meski dengan kesalahan yang besar dan seringkali menyepelekan kesalahan yang kecil. Akhirnya dosa yang sudah bertumpuk semakin menumpuk. Nastaghfirullah. Mbah Hasyim (w. 1947), Kyai Sanusi (w. 2001) dan Kyai Tahmid kini telah tiada. Semoga ketiganya dikumpulkan bersama dalam naungan ridhaNya, Aamiin.
Share:

Sabtu, 14 Februari 2015

Detik-detik terakhir jelang wafatnya Rasulullah

Anas bin Malik meriwayat kan, pada Hari Senin, ketika kaum muslimin sedang melaksanakan shalat Subuh sementara sahabat Abu Bakar R.A. sedang mengimami mereka Nabi SAW tidak menemui mereka, tetapi hanya menyingkap tabir kamar Aisyah dan memperhatikan mereka yang berada di shaf-shaf shalat. Kemudian beliau tersenyum.

Abu Bakar mundur hendak berdiri di shaf, karena dia mengira Rasululah SAW hendak keluar untuk shalat. Selanjutnya Anas menuturkan bahwa kaum muslimin hampir terganggu di dalam shalat mereka, karena bergembira dengan keadaan Rasulullah SAW.

Namun, beliau memberikan isyarat dengan tangan beliau agar mereka menyelesaikan shalat. Kemudian, beliau masuk kamar dan menurunkan tabir.

Setelah itu, Rasulullah SAW tidak mendapatkan waktu shalat lagi.

Ketika waktu Dhuha hampir habis, Nabi SAW memanggil Fatimah, lalu membisikan sesuatu kepadanya, dan Fatimah pun menangis. Kemudian memanggilnya lagi dan membisikan sesuatu, lalu Fatimah tersenyum.

Aisyah berkata, setelah itu, kami bertanya kepada Fatimah tentang hal tersebut.

Fatimah Ra menjawab, ”Nabi SAW membisikiku bahwa beliau akan wafat, lalu aku menangis. Kemudian, beliau membisiku lagi dan mengabarkan aku adalah orang pertama di antara keluarga beliau yang akan menyusul beliau.” (Shahihul Bukhari, II: 638).

Nabi SAW juga mengabarkan kepada Fatimah bahwa dia adalah kaum wanita semesta alam.

Fatimah melihat penderitaan berat yang dirasakan oleh Rasulullah SAW sehingga dia berkata, ”Alangkah berat penderitaan ayah!” tetapi beliau menjawab, ”Sesudah hari ini, ayahmu tidak akan menderita lagi.”

Beliau memanggil Hasan dan Husain, lalu mencium keduanya, dan berpesan agar bersikap baik kepada keduanya. Beliau juga memanggil istri-istri beliau, lalu beliau memberi nasehat dan peringatan kepada mereka.

Sakit beliau semakin parah, dan pengaruh racun yang pernah beliau makan (dari daging yang disuguhkan oleh wanita Yahudi) ketika di Khaibar muncul, sampai-sampai beliau berkata, ”Wahai Aisyah, aku masih merasakan sakit karena makanan yang kumakan ketika di Khaibar. Sekarang saatnya aku merasakan terputusnya urat nadiku karena racun tersebut.”

Beliau juga memberi nasehat kepada orang-orang , ”(perhatikanlah) shalat; dan budak-budak yang kalian miliki!” Beliau menyampaikan wasiat ini hingga beberapa kali.

Saat-saat Terakhir:Tanda-tanda datangnya ajal mulai tampak. Aisyah menyandarkan tubuh Rasulullah ke pangkuannya.

Aisyah lalu berkata, ” Sesunguhnya di antara nikmat Allah yang dikaruniakan kepadaku adalah bahwa Rasulullah SAW wafat di rumahku, pada hari giliranku, dan di pangkuanku, serta Allah menyatukan antara ludahku dan ludah beliau saat beliau wafat. Ketika aku sedang memangku Rasulullah SAW, Abdurahman dan Abu Bakar masuk dan di tangannya ada siwak. Aku melihat Rasulullah SAW memandanginya, sehingga aku mengerti bahwa beliau menginginkan siwak. Aku bertanya, ’Kuambilkan siwak itu untukmu?’ Beliau memberi isyarat “ya” dengan kepala, lalu kuambilkan siwak itu untuk beliau. Rupanya siwak itu terasa keras bagi beliau, lalu kukatakan, ’kulunakkan siwak itu untukmu?’ Beliau memberi isyarat ”ya” lalu kulunakan siwak itu. Setelah itu aku menyikat gigi beliau dengan sebaik-baiknya siwak itu. Sementara itu, di hadapan beliau ada bejana berisi air. Beliau memasukan kedua tangannya ke dalam air itu, lalu mengusapkannya ke wajah seraya berkata, ’La ilaha illallah, sesungguhnya kematian itu ada sekarat nya.” (Shahih Bukhari II, 640).

Seuasi bersiwak, beliau mengangkat kedua tangan beliau yang mulia, atau jari-jarinya mengarahkan pandangannya ke langit-langit, dan kedua bibirnya bergerak-gerak. Aisyah mendengarkan apa yang beliau katakan itu, beliau berkata,”Ya Allah ampunilah aku; Rahmatillah aku; dan pertemukan aku dengan Kekasih yang Maha Tinggi. Ya Allah, Kekasih Yang Maha Tinggi.” (Ad Darimi, Misykatul Mashabih, II: 547).

Beliau mengulang kalimat terakhir tersebut sampai tiga kali, lalu tangan beliau lunglai dan beliau kembali kepada Kekasih Yang Maha Tinggi. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Peristiwa ini terjadi ketika waktu Dhuha sedang memanas, yaitu pada hari Senin 12 Rabi’ul Awal tahun 11 H. Ketika itu beliau berusia 63 lebih empat hari. (Aji Setiawan/Red: Mahbib)

Sumber: www.nu.or.id

Share:

Selasa, 03 Februari 2015

Yang istimewa pada diri Abdurrahman bin auf

Jika Rasulullah SAW pernah mengumumkan ada sepuluh sahabat yang dijanjikan bakal masuk surga, maka nama Abdurrahman bin ‘Auf termasuk di dalamnya. Nabi menyebut namanya di sela-sela nama para sahabat agung yang lain, tak terkecuali empat pengganti Rasulullah (al-khulafaur rasyidun).

Saat kabar atau hadits itu sampai di telinga Abdurrahman bin ‘Auf, dadanya tak lantas membusung. Ia justru gemetar takut. Suasana batin semacam ini berlangsung terus-menerus hingga akhirnya ia memberanikan diri menemui Rasulullah.

Abdurrahman bin ‘Auf sendiri adalah kerabat Nabi. Silsilah keturunan mereka berdua bertemu di generasi keenam ke atas, yakni Kilab bin Murrah. Namun demikian, kedekatan hubungan darah tak serta-merta mengurangi sikap takzim Abdurrahman kepada Sang Utusan Allah.

Abdurrahman bin ‘Auf masih terus terngiang dengan perkataan Rasulullah ketika akan berjumpa dengan sumber ucapan itu. Kerendahan hatinya lah yang membuat hatinya diliputi kecemasan lantaran kabar yan g mengistimewakan dirinya di antara para sahabat ternama itu.

“Allah telah memberimu hutang yang indah, yang membebaskan kedua kakimu,” tutur Rasulullah sebagaimana tercatat dalam kitab At-Thabaqatul Kubra karya Syaikh Abdul Wahab Asy-Sya’rani.

Melalui Nabi, Jibril lantas memberinya pesan anjuran kepada Abdurrahman bin ‘Auf untuk senantiasa memuliakan tamu, memberi makan kaum miskin, dan membantu orang-orang yang butuh pertolongan. “Jika semua perbuatan ini dilakukan maka lunas lah hutang-hutang tersebut.”

Abdurrahman bin ‘Auf sejak awal terkenal sebagai orang yang super dermawan. Ia pernah menyedekahkan 700 rahilah, yang mayoritas untuk para faqir dan miskin. Rahilah adalah jenis unta tunggangan yang harganya lebih mahal dari unta biasa. Abdurrahman memberikannya beserta barang bawaan dan pelana berikut alasnya.

Di mata Rasulullah, Abdurrahman istimewa salah satunya karena kepedulian sahabat as-sabiqunal awwalun (golongan orang pertama masuk Islam) ini terhadap masyarakat lemah. Hatinya tetap lapang meski harta bendanya banyak didermakan untuk kepentingan itu.

Suatu kali Rasulullah pernah dari arah belakang mengalungkan serban dan menutupi kedua bahu Abdurrahman bin ‘Auf. “Inilah hamba yang shalih,” lisan Nabi yang lembut melontarkan pujian.

Abdurrahman bin ‘Auf merupakan orang dengan ketawadukan yang luar biasa. Karenanya, berita bahagia yang mengistimewakan dirinya pun direspon dengan rasa khawatir. Bukan tak percaya atau tak suka. Baginya, di hadapan Tuhan dirinya tak ada apa-apanya. Karakter ini seolah menjadi tamparan keras bagi orang atau kelompok yang merasa paling benar dan mulia meski tanpa jaminan surga.

Al-Imam Abu Muhammad Abdurrahman bin ‘Auf wafat pada tahun 32 hijriyah dan disemayamkan di Baqi’, Madinah, dekat dengan makam Rasulullah SAW. (Mahbib)

Sumber: www.nu.or.id

Share:

Sabtu, 24 Januari 2015

Detik-detik wafatnya syekh Abdul-qodir Al-jailani

Jasadnya memang sudah terkubur lebih dari delapan abad. Namun nama dan tauladan hidupnya tetap membekas kuat di kalangan umat Islam. Dialah Syekh Abdul Qadir al-Jailani, ulama sufi kelahiran Persia yang kemasyhurannya setingkat dunia.

Syekh Abdul Qadir terkenal sebagai pribadi yang teguh dalam berprinsip, sang pencari sejati, dan penyuara kebenaran kepada siapapun, dan dengan risiko apapun. Usianya dihabiskan untuk menekuni jalan tasawuf, hingga ia mengalami pengalaman spiritual dahsyat yang mempengaruhi keseluruhan hidupnya. Jejak Syekh Abdul Qadir juga dijumpai dalam belasan karya orisinalnya.

Selain mewarisi banyak karya tulisan, Syekh Abdul Qadir meninggalkan beberapa buah nasehat menjelang kewafatannya. Akhir hayat Syekh didahului dengan kondisi kesehatannya yang terus menurun. Kala itu putra-putranya menghampiri dan mengajukan sejumlah pertanyaan.

”Berilah aku wasiat, wahai ayahku. Apa yang harus aku kerjakan sepergian ayah nanti?” tanya putra sulungnya, Abdul Wahab.

”Engkau harus senantiasa bertaqwa kepada Allah. Jangan takut kepada siapapun, kecuali Allah. Setiap kebutuhan mintalah kepada-Nya. Jangan berpegang selain kepada tali-Nya. Carilah segalanya dari Allah,” jawab sang ayah.

”Aku diumpamakan seperti batang yang tanpa kulit,” sambung Syekh Abdul Qadir. ”Menjauhlah kalian dari sisiku sebab yang bersamamu itu hanyalah tubuh lahiriah saja, sementara selain kalian, aku bersama dengan batinku.”

Putra lainnya, Abdul Azis, bertanya tentang keadaannya. ”Jangan bertanya tentang apapun dan siapapun kepadaku. Aku sedang kembali dalam ilmu Allah,” sahut Syekh Abdul Qadir.

Ketika ditanya Abdul Jabar, putranya yang lain, ”Apakah yang dapat ayahanda rasakan dari tubuh ayahanda?” Syekh Abdul Qadir menjawab, ”Seluruh anggota tubuhku terasa sakit kecuali hatiku. Bagaimana ia dapat sakit, sedang ia benar-benar bersama dengan Allah.”

”Mintalah tolong kepada Tuhan yang tiada tuhan yang wajib disembah kecuali Dia. Dialah Dzat yang hidup, tidak akan mati, tidak pernah takut karena kehilangannya.” Kematian pun segera menghampiri Syekh Abdul Qadir.

Syekh Abdul Qadir al-Jainlani menghembuskan nafas terakhir di Baghdad, Sabtu bakda maghrib, 9 Rabiul Akhir 561 H atau 15 Januari 1166 M, pada usia 89 tahun. Dunia berduka atas kepulangannya, tapi generasi penerus hingga sekarang tetap setia melanjutkan ajaran dan perjuangannya. (Mahbib Khoiron)

Sumber: www.nu.or.id

Share:

Rabu, 21 Januari 2015

Mengenal sosok syaikhul islam ibnu taimiyah

Berikut adalah untaian kisah dari perjalanan seorang ulama besar dari kalangan ulama umat ini. Seorang imam dari kalangan para imam yang mendapat petunjuk, denganya Allah subhanahu wata'ala memperbaharui agama ini. Dan melalui tangannya allah subhanahu wata'ala menumpas bid'ah sampai ke akar-akarnya, beliau adalah seorang ulama dunia pada zamannya , orang tercerdas pada waktunya, belum ada yang menyamai dirinya dalam hal hafalan, ilmu serta amalan.

Beliau adalah syaikhul islam abul abbas ahmad bin syihabudin abdul halim bin majudin abul barakat abdul-salam bin abdullah bin abul qosim Al-harani. Ibnu taimiyah yang merupakan julukan bagi kakeknya yang paling atas. Lahir pada tanggal 10 rabiul awal tahun 661 H. Adapun al-harani adalah nisbat kepada sebuah negeri masyhur yang berada di antara negeri syam dan iraq.

Beliau berkulit putih berperawakan tinggi sedang, berdada datar tegap, sedikit beruban, dengan rambut menjulur sampai diatas daun telinga, matanya besar bagaikan lisan ketika berbicara, suaranya emas, fasikh, sangat cepat dalam membaca, padanya berhenti dalam hal keberanian serta memaafkan. Beliau hafal al-qur'an pada usia sebelum baligh, terampil dalam ilmu syari'at, dan bahasa arab serta ilmu mantiq dan lainnya. Dirinya tidak menikah tidak pula memiliki wanita simpanan, bukan karena tidak menyukai nikah, karena itu merupakan sunah nabi muhamad S.A.W. Namun, karena kesibukan beliau dengan ilmu. Mengajar, dakwah serta berjihad, beliau menghabiskan seluruh waktunya untuk meneliti, membaca, dan menela'ah, seakan diri beliau tidak pernah kenyang dan puas akan ilmu, tidak merasa puas dari menelaah, tidak bosan serta capek dari menyibukkan diri dengan penelitian ilmu, Berkata imam Dzahabi, "tidaklah aku melihatnya kecuali sedang berada diantara tumpukan kitab".

Beliau menyusun kitab untuk pertama kalinya pada usia tujuh belas tahun, beliau termasuk seorang ulama yang berpredikat sepanjang masa disebabkan begitu banyak karya tulis yang beliau hasilkan, sehingga belum pernah didapati dalam sejarah islam ada orang yang menulis karya ilmiah seperti yang beliau tulis, diperkirakan tulisan yang beliau hasilkan mencapai lima ratus jilid, dengan empat ribu buku tulis atau lebih,

sampai dikatakan tulisan yang beliau hasilkan pada setiap harinya mencapai empat buku, didalam menulis buku-bukunya beliau selalu mengambil dari hafalan yang dia miliki, dirinya sangat mahir dalam masalah menulis dan cepat dalam menyusun, sehingga hasil tulisannya bila disamakan hampir sama dengan kilatan cahaya mesin. Hasil karya tulisannya sangat sempurna, dengan dibarengi hujjah dan dalil yang kuat, bagus dalam penulisan serta susunan pembahasannya.

Beliau mulai mengajar, sedang usianya pada saat itu masih dua puluh satu setelah kematian bapaknya. Adapun dalam mengajar tafsir maka beliau mulai mengajar pada usia tiga puluh tahun, dan terus berlanjut sampai waktu yang cukup lama, sungguh terkumpul pada diri beliau imamah dalam masalah ilmu tafsir dan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan al-qur'an. Dimana beliau sangatlah menekuni dan menyukainya secara total sampai dirinya betul-betul menguasai ilmu-ilmu tadi sehingga meninggalkan jauh yang lainya. Dikisahkan, beliau mempunyai kitab tafsir yang sangat panjang yang berisikan sesuatu yang menakjubkan dan belum pernah ada sebelumnya yang menyamainya.

Untuk mengenal sosok beliau lebih lengkap silahkan Download Ebooknya DOWNLOAD DISINI...

Sumber Risalah: islamhouse.com

Share:

Selasa, 20 Januari 2015

Teguran Rasulullah terhadap sahabat muadz bin jabal

Suatu hari, sahabat Muadz bin Jabal r.a. shalat Isya berjamaah bersama kaumnya. Di tempat tersebut ia menjadi imam. Sewaktu masih berlangsung jamaah shalat tersebut, salah seorang makmum mufaraqah (keluar dari jamaah), untuk kemudian dia melakukan shalat munfarid (sendirian).

Rupanya, ia merasa keberatan tatkala sang imam membaca Surah al-Baqarah dalam shalatnya. Usai shalat, Muadz ditodong sejumlah pertanyaan dari sebagian jamaah, sebagaimana termaktub dalam kitab Shahih Bukhari.

“Apakah kamu berlaku munafik wahai fulan?” tanya salah satu jamaah kepada Muadz. “Tidak,” jawab Muadz.

Kurang puas dengan jawaban tersebut, mereka mendatangi Rasulullah saw untuk mengadukan persoalan ini.

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami para pekerja penyiram bekerja pada siang hari, dan sesungguhnya Mu’adz shalat Isya’ bersamamu, kemudian dia datang mengimami kami dengan membaca surah Al-Baqarah,” protes mereka.

Nabipun mengklarifikasi persoalan ini kepada Muadz. Setelah mengetahui duduk permasalahan. Nabi kemudian memberikan nasihat kepada sahabatnya itu. “Mengapa kamu tidak membaca saja surat ‘Sabbihisma rabbika’ (al-A’la), atau dengan ‘Wasy syamsi wa dluhaahaa’ (asy-Syams) atau ‘Wallaili idzaa yaghsyaa’ (al-Lail)?” tutur Nabi.

“Karena yang ikut shalat di belakangmu mungkin ada orang yang lanjut usia, orang yang lemah, atau orang yang punya keperluan.”

Begitulah, imam atau pemimpin adalah seorang yang menjadi panutan dan diikuti oleh orang banyak. Maka, dia mesti bisa ngemong (memperhatikan dan melayani kebutuhan) umat. Kebijakan tidak hanya diukur dari kemampuan dirinya, tetapi juga memperhatikan maslahat dan mudarat yang akan menimpa umatnya.

Ditulis Oleh: (Ajie Najmuddin)

Sumber: www.nu.or.id

Share:

Selasa, 13 Januari 2015

Musik Dan Penghayatan Religius sufi

Imam al-Ghazali tetap bersikukuh pada pendapatnya tentang sama’, yakni konser kerohanian para sufi yang disertai pembacaan sajak dan tari-tarian. Meskipun para pakar fikih menegaskan bahwa musik itu dilarang, Imam Syafi’i memakruhkan musik dan tidak menerima kesaksian dari orang yang mendengarkan musik. Imam Malik dan Imam Abu Hanifah mengharamkan. Bahkan, sebagian kalangan sufi sendiri ada yang berkomentar miring tentang nyanyian. Fudail bin Iyadh mengatakan, “Nyanyian adalah perisai zina.” Abdullah bin Mas’ud bahkan menyatakan, “Nyanyian dapat menumbuhkan sifat munafik”.

Sama’ sebenarnya bersumber dari kodrat tubuh dan jiwa menusia sendiri. Manusia tidak dapat dipisahkan dari ritme atau musik, dan musik sangat penting bagi kesegaran jiwa. Ada musik yang dapat membahagaiakan dan ada yang dapat membuat sedih. Bagi sebagian besar kalangan sufi, sama’ merupakan sarana untuk mendekatkan diri kepada sang Khalik. Sama’ dapat mempengaruhi keadaan hati dari lupa menuju ingat kepada Tuhan. Sebagian sufi berkata, “Sama’ adalah makanan jiwa bagi ahli ma’rifat.” Sama’ dapat membawa pengdengarnya ke puncak spiritualitas yang disebut dalam istilah tasawuf dengan wajd.

Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya’, setelah mengutip beberapa pendapat tentang hal-ihwal wajd, mengatakan, wajd adalah salah suatu keadaan yang dihasilkan oleh sama’, ia berupa warid (intuisi) dari Allah SWT yang datang kepada jiwa pendengarnya. Keadaan itu ada yang mengarah kepada mukasyafat dan musyahadat, dan ada yang mengarah pada perubahan pada ahwal, seperti rasa rindu, takut, dan lain-lain. Keadaan itu juga dapat membakar hati dan membersihkannya dari karat-karat nafsu yang sebagaimana api yang membakar dan menghilangkan karat-karat besi. Perubahan-perubahan yang terjadi ketika wajd juga nampak pada keadaan lahir. Ada yang sampai menangis, berteriak, bahkan ada yang naik terbang beberapa meter dari permukaan bumi.

Para sufi juga memandang bahwa sama’ berkaitan dengan tajarrud, yakni pembebasan dari alam benda melalui sarana yang berasal dari alam benda itu sendiri. Meskipun suara, bunyi, ritme, nada, dan lain-lain berasal dari alam benda yang dikuasai bentuk dan rupa, namun ia mempunyai hubungan dengan alam kerohanian yang tidak mempunyai rupa. Seperti hukum fikih yang terkait dengan hukum lahir, tapi ia bertalian dengan hakikat dan makna spritual agama.

Musik menurut tinjauan al-Ghazali secara umum bukanlah hal yang tabu. Musik menjadi hal yang tabu karena ada faktor eksternal, sedangkan hakikat musik sendiri sama dengan bunyi-bunyian yang lain seperti kicauan burung, ringkikan kuda, dll. Kecuali beberapa alat musik yang sudah di-nash keharamannya.

Al-Ghazali seperti kebanyakan para sufi menjadikan musik sebagai sarana untuk mencapai ma’rifat. Hati adalah tempat bersemayam rahasia-rahasia Ilahi yang tidak bisa tergali kecuali dengan sama’. Nyanyian- nyanyian indah dan merdu yang bernuansa religius dapat menembus ke dalam relung hati pendengarnya.

Banyak tarekat-tarekat yang menjadikan sama’ sebagai media zikirnya, seperti Tarekat al-Mawlawiyah, Alawiyah, Sanusiyah, dan lain-lain. Yang disebut pertama adalah tarekat yang berdiri di Anatolia (Asia Kecil) Turki pada Abad ketiga belas. Sampai sekarang merupakan tarekat yang berpengaruh di sana. Asal-muasal tarekat ini menggunakan sama’ sebagi sarana zikir mempunyai kisah yang unik. Pendiri tareakat ini, Jalaluddin ar-Rumi (604 H/1207 M-672H/1273 M), pada suatu hari dia mengunjungi sahabatnya Husamuddin, seorang pandai besi dan emas. Di depan kedai sahabatnya itu, ar-Rumi tiba-tiba terpesona mendengar pukulan palu berulang-ulang pada landasan besi. Dia seakan mendengar seruan, “Allah!, Allah!, Allah!” berulang-ulang. Dengan spontan dia menari berputar-putar sehingga menjadi wajd. Sejak itulah ia mengajarkan tari berputar seperti gasing kepada para pengikutnya disertai iringan musik dan pembacaan sajak.

Sementara itu, kelompok yang getol menolak sama’ datang dari kelompok fuqaha’ dan sebagian dari kalangan mutashawwifah sendiri. Sebagian mutashawwifah berpanangan bahwa ajaran tasawuf tidak layak terkontaminasi dengan hal-hal yang tidak serius, sebab ajaran tasawuf menekankan pada kesungguhan dan keseriuasan. Sama’ bagi mereka seperti gurauan yang tidak berfaidah. Imam adh-Dhahak bilang, “Nyanyian bisa merusak hati dan membuat murka Tuhan.” Imam Junaid mengatakan, “Bila ada seorang murid yang ingin melakukan aktivitas sama’, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya dia melakukan aktivitas yang sia-sia.”

Imam Junaid sebenarnya melakukan aktivitas sama’ seperti juga Imam Sahal at-Tasturi dan Imam Sari as-Saqati, hanya saja beliau melarang kepada seorang murid yang notabene belum memiliki kekuatan spiritual seperti mereka. Karena itu, ketika Abul Abbas Khidir AS. ditanya tentang kontroversi sama’, beliau manjawab, “Ia adalah sesuatu yang dapat membersihkan kesalahan, tapi hanya ulama yang bisa selamat di atasnya.” Ada yang mengatakan bahwa sama’ hanyalah boleh dilakukan oleh para ‘arifin yang sudah stabil, bukan seorang murid pemula.

Jadi, bukan sembarang orang yang bisa menjadikan sama’ sebagai sarana dan media untuk taqarrub kepada Allah SWT. Hanyalah jiwa yang mulia dan bersih hatinya dari kotoran serta terbebas dari belenggu hawa nafsu. Sedangkan tujuan utama sama’ adalah taqarrub kepada Allah SWT dengan bisa mencapai wajd. Sementara itu, bukan hanya dengan sama’ untuk mencapai wajd, masih banyak cara yang lain, seperti membaca dan mendengarkan al- Quran, zikir, dan lain-lain.

Sumber Tulisan: www.sidogiri.net

Penulis: Muzakki Kholil

Share:

Arsip

Tokoh Islam

Hikmah

Islamia

Muslimah